Renungan

Terluka Dan Memandang Tuhan Yang Tersalib

 12 total views,  8 views today

Kamis, 23 September 2021
Santo Pio
Gal 6:14-18
Yoh 19:25-37

Orang yang amat rasional pun bisa terluka amat mendalam. Padahal, kalau luka selalu dihubungkan dengan hati. Tidak pernah disebut luka budi, yang biasa disebut ialah luka hati, patah hati, sakit hati. Mengapa tidak ada luka budi, sakit budi, patah budi? Ini bukan seorang bernama budi melainkan kemampuan bernalar atau berpikir manusia 😁😁😁. Tetapi begitulah, ternyata orang yang mengutamakan penalarannya bisa juga sakit hati. Tegangan itu tidak disukai semua orang tetapi justru begitulah kenyataan manusia. Kehebatan berpikir ataupun penalaran yang pintar mengutak-atik dan logika manusia sering tidak mampu menghindari atau mengobati luka. Justru sering terjadi bahwa semakin terasah penalaran malah makin sensitif, mudah tersinggung dan bahkan terluka. Koq bisa?

Hari ini kita berpesta untuk memestakan seorang kudus yang pernah terluka, Santo Padre Pio. Dari segi waktu, orang kudus ini masih amat dekat dengan kita. Cobalah search/cari riwayat hidupnya di mbah google. Santo Pio dikenal semasa hidupnya di dunia sebagai orang yang saleh, bapa pengakuan dan karena itu amat kuat mendalami hati orang lain. Itu bukan berarti Padre Pio cuma main hati 😁😁😁. Ia menjalani masa pendidikan imamat sesuai prosedur. Kecakapan filsafat dan teologinya pasti terlatih. Namun, kesalehannya tidak terkikis sebab Kristus yang tersalib membuatnya terpesona. Luka Kristus menjadi nyata dalam dirinya, ia adalah imam pertama yang mendapat stigmata. Saya nggak melihat itu, sebab saya belum pernah berjumpa dengan Padre Pio. Tetapi, saya amat yakin bahwa Padre Pio pernah terluka, pernah tersakiti, pernah patah hati. Dalam semuanya itu Kristus yang tersalib tetap menggembirakan dan menyemangatinya karena Ia percaya pada Tuhan yang tersalib. Sebab, dari Salib Tuhan tetap penuh kuasa membuat kita berdaya sebagaimana dilukiskan dalam Injil hari ini. Tuhan yang tersalib bukanlah Tuhan yang kalah, bukan Tuhan yang mudah patah hati, bukan Tuhan yang larut dalam kesakitan hati. Tuhan kita adalah Tuhan yang menang atas segalanya itu. Sakit hati? Mengadulah pada-Nya!

Santo Padre Pio, doakanlah kami!
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply