Renungan

Pasrah pada Kehendak Bapa

 43 total views,  5 views today

Selasa, 07 September 2021
Kol 2:6-15
Luk 6:12-19

Saya yakin bahwa salah satu kesulitan orang untuk berdoa adalah karena menganggap berdoa sebagai kegiatan bisnis investasi. Keyakinan itu membuat seseorang berdoa menyamakannya dengan seperti menambah saham yang suatu ketika mendapat untung karena sahamnya beranak pinak alias bertambah banyak. Selekas orang nggak mendapat hasil yang kelihatan dari doa, orang menganggap bahwa ternyata tidak ada artinya berdoa. Karena berdoa berbeda dengan membuat konten di Youtube atau Tiktok yang karena sekian banyak followers atau yang menyukai akan ada iklan di dalamnya dan dari iklan itu dapatlah poin yang bisa ditukarkan dengan uang yang jumlahnya bertambah dari waktu ke waktu. Begitu kata teman saya. Kalau berdoa? Ya, bisa makin lama justru orang merasa bingung, kering dan bahkan merana karena doa yang dianggapnya bisnis nggak pernah menguntungkan. Harga sahamnya anjlok. Investasinya merugi. Kayak pengamat bisnis saja. Hehehe.

Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus mendaki bukit dan berdoa. Saya heran, kenapa Yesus harus mendaki bukit cuma untuk berdoa. Ternyata, tindakan yang mulia yang istimewa dan penting harus ditempatkan yang di tempat khusus dan tinggi serta terhormat. Ini bukan mau mengatakan kalau kita mau berdoa harus mendaki gunung dulu. Berdoa adalah tindakan istimewa umat beriman, mulia dan terhormat. Maka, perlu sikap batin yang siap dan sikap itu menjadi pertanda keseriusan umat beriman dalam berdoa. Untuk apa? Yesus berdoa sebelum memilih para murid-Nya yang disebut juga para rasul. Dengan memilih para rasul, Yesus bukan mau membeda-bedakan orang atau mengistimewakan orang, melainkan membuka hati pada Bapa agar kehendak Bapalah yang terjadi dalam memilih para rasul. Itu bukan bisnis. Dalam doa yang seperti itu murni terjadi kepasrahan total kepada Allah Bapa. Begitulah kita juga saat berdoa, kita mau berpasrah agar Allah Bapa berkarya dalam hidup kita sehingga kehendak-Nya terwujud. Dalam situasi begitu, kita bisa saja merugi dalam hitungan dunia, tetapi kaya kebaikan Tuhan karena penyerahan diri total kepada Allah. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami pasrah pada kehendak-Mu”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply