Renungan

Panggilan Tuhan

 16 total views,  4 views today

Selasa, 21 September 2021
Santo Matius, Rasul
Ef 4:1-7.11-13
Mat 9:9-13

Sering orang mengakui dirinya sebagai yang tidak layak, tidak pantas, berdosa, najis atau pun kotor. Bukan hanya mengakui, tetapi juga mengucapkannya kepada orang lain. Namun, ada lucunya juga. Ucapan itu terlontar hanya saat ia diminta untuk melakukan tugas atau misi tertentu. Entah tugas sebagai pengurus Gereja, atau tugas memimpin perkumpulan, atau tugas apa pun. Dengan spontan ketika diminta, orang itu langsung berkata: “Saya nggak sanggup. Saya berdosa, saya begini, saya begitu, bla bla bla…” Sebelumnya jarang ungkapan itu kedengaran. Ungkapan itu muncul hanya saat diminta untuk mewujudkan misi tertentu. Sebelumnya begitu? Nggak tahu! Kesan saya, pengakuan dalam kondisi seperti itu malah membuat berdosa. Itu bukan kerendahan hati. Munculnya pengakuan itu bukan pertama-tama karena kesadaran diri melainkan sebagai reaksi terhadap tugas atau misi tertentu. Maka, semakin jelaslah dosa membuat orang terpusat dan berputar-putar dalam dirinya sehingga karena berputar-putar makin sesat.

Hari ini Gereja kita memestakan Matius yang dulunya adalah seorang pemungut cukai dan kemudian menjadi rasul dan pengarang Injil. Kisah panggilan Tuhan kepadanya disampaikan kepada kita melalui perikop Injil hari ini. Yesus melihat Matius duduk di rumah cukai. Lebih dari sekadar duduk di kursi malas atau kursi rajin😁😁😁, duduk hendaknya kita pahami juga sebagai sikap menikmati, mapan dalam sebuah situasi kabur bahkan gelap. Nah, rumah cukai itu dicap sebagai sarang penipu dan koruptor karena di sanalah para pemungut cukai menyusun strategi, membuat kebijakan untuk mendapatkan pajak sebanyak-banyaknya dari rakyat dan kemudian membagi-bagi jatah bersama kroni-kroninya. Melihat itu, Yesus berkata: “Ikutlah Aku” Tanpa basa-basi, diskusi dan berargumentasi panjang kali lebar plus kali tinggi, Matius langsung ikut. Di sini amat jelaslah disampaikan kepada kita kebebasan Matius. Walaupun dia sudah menikmati situasi kedosaan, tetapi ia masih memiliki kebebasan. Dia berani lepas bebas mengikuti Sang Guru. Berdosa ya berdosa. Tetapi, seberapa banyak dan seberapa sering orang memakai kebebasannya untuk mengikuti kebaikan dan kebenaran? Atau malah justru diperbudak oleh dosa sehingga sering mencari-cari alasan dan berpura-pura rendah hati padahal semakin tertutup dan tertuju pada diri? Marilah kita berdoa: “Tuhan, panggillah kami terus-menerus”

 

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply