Renungan

Menjadi Murid Tuhan

 12 total views,  4 views today

Rabu, 22 September 2021
Ezr 9:5-9
Luk 9:1-6

Beberapa kali saya dengar teman saya bertanya dengan nada menegaskan 😁😁😁: “Untuk apa repot-repot?”. Memang tidak ada orang yang suka repot. Tetapi, kalau tidak mau repot jangan-jangan jadi dangkal, asal-asalan sehingga hasilnya pun ya memang asal jadi. Sebenarnya perlulah repot untuk hal yang perlu direpotkan. Namun, harus diakui bahwa banyak orang yang merepotkan hal yang tidak perlu direpotkan. Akibatnya skala prioritas terabaikan. Kebutuhan dan keinginan sulit dibedakan karena ukuran dan nilainya tidak jelas. Itulah yang membuat benar-benar repot. Repot pada hal yang bukan penting atau repot pada yang tak perlu adalah sia-sia.

Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus memanggil para murid-Nya. Setelah para murid dipanggil yang artinya sekian lama mengalami pendidikan, pengkaderan, pembinaan, penataan hingga layak disebut sebagai murid diberilah tenaga dan kuasa oleh Yesus. Entah apa maksud penulis Injil ini dengan kata “tenaga”, tenaga dalam atau tenaga luar 😁. Yang saya tangkap ialah kekuatan batin, kemampuan yang dibutuhkan untuk tugas perutusan Kristus. Kemampuan itu bukan diterima dari orang hebat di dunia ini, melainkan dari Yesus. Apa itu? Menguasai setan-setan dan menyembuhkan penyakit-penyakit. Kemampuan itu adalah anugerah Sang Guru kepada para murid-Nya. Kemampuan itulah yang utama dalam hidup para murid, yang lain hendaknya mendukung kemampuan itu. Karena itu Yesus berkata: “Jangan membawa apa-apa!” Yesus mengajak para murid-Nya agar jangan menomorduakan kemampuan itu dan menomorsatukan keinginan-keinginan atau tambahan yang lain. Jaman ini memang jaman musim banyak penyembuhan. Tetapi, harus kita teliti kesejatian kuasa penyembuhan itu, apakah berasal dari kuasa Yesus atau kuasa dari si A atau si B atau si C. Sialnya, si A dengan amat mudah mengatasnamakan penyembuhannya atas nama Yesus begitu juga si B, pun si C. Yesus yang kita ikuti adalah Yesus mengajak kita untuk tunduk, rendah hati, dan lepas bebas untuk mengikuti-Nya dan dengan demikian pula kita mampu memberi kesaksian Kabar Gembira. Ketundukan pada Sang Guru sepaket dengan kerendahan hati seorang murid. Hanya dengan tunduk seperti itulah seorang murid bisa fokus pada tugas yang diterima dari Sang Guru. Tugas itu adalah prioritas para murid. Kalau tidak, repotnya nggak berguna memang sebab orientasinya bukan perutusan. Gawat deh kalau orientasinya bukan perutusan sesuai misi Kristus, karena alih-alih membawa Kabar Gembira bisa jadi justru membawa kabar menyakitkan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, ajar kami selalu tunduk dan rendah hati sebagai murid-Mu”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply