Renungan

Menerima Derita di Jalan Tuhan

 4 total views,  4 views today

Sabtu, 25 September 2021
Za 2:1-5.10-11a
Luk 9:43b-45

Seseorang bisa saja tak mengerti akan apa yang dikehendaki oleh temannya walaupun sudah sekian lama berteman. Itu bisa juga terjadi dalam hidup berkomunitas atau hidup berumahtangga. Karena hidup saya berkomunitas maka saya bisa alami itu. Setelah sekian lama pun hidup berkomunitas dengan seseorang bisa saja tetap banyak yang tidak kita ketahui dan banyak yang tidak kita pahami dari teman sekomunitas. Entah sifatnya, tindakannya, visi-misinya, pegangan hidupnya dan sebagainya. Katanya itu bisa terjadi juga dalam hidup suami-isteri. Saya cuma sebagai pendengar. Mudah-mudahan pembaca renungan yang hidup sebagai suami-isteri bisa melihat pengalaman ini. Berawal dari ketidakmengertian terjadilah kesalahpahaman dan karena kesalahpahaman timbullah konflik. Kalau makin lama tidak saling terbuka akhirnya memang bisa makin gelap gulita dan disertai hujan badai. Moga-moga tidak!😁

Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus menegaskan tentang siapa Dia. Terhadap murid-murid-Nya sudah berulangkali Yesus menerangkan dan menegaskan diri-Nya sebagai Mesias yang menderita. Tetapi, sulit dimengerti dan dipahami para pendengar-Nya bahwa Mesias menderita. Kesulitan itu terjadi karena para pendengar-Nya tidak menemukan arti dari perkataan Yesus. Mereka asyik dengan pemikirannya, konsepnya dan pegangan hidupnya. Koq harus menderita? Yesus berkata: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia” Ungkapan ini sebagai kesiapan-Nya untuk mengikuti kehendak Bapa-Nya. Bukan rancangan dan rencana manusia maka Yesus menderita, melainkan karena kehendak Yesus dan Bapa menyatu dan sama yaitu untuk menyelamatkan. Maka kalau kita berani menyatukan kehendak pribadi kita dengan kehendak Allah, kita akan diserahkan kepada tangan manusia. Bisa saja memang amat keji dan kejam tangan manusia di dunia ini terhadap kita. Tuhan mengalaminya. Pengecut akan lari dari deritanya. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami tidak melarikan diri dari penderitaan kami”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply