Renungan

Kegembiraan yang Sejati

 30 total views,  4 views today

Jumat, 17 September 2021
Pesta Stigmata Fransiskus
Sir 50:1.3-4.6-7
Luk 9:23-26

Pernahkah melihat orang menderita tetapi masih bisa tersenyum, gembira dan optimis menatap hari esok? Tentu kegembiraan yang saya maksud bukan kegembiraan yang dibuat-buat atau senyum yang dirakit sebagai penghias wajah. Kegembiraan yang saya maksud ialah kegembiraan yang sejati. Dan itu memang tidak terlihat oleh mata karena kehadirannya di dalam batin. Kegembiraan yang begitu bukanlah cara untuk melarikan diri dari situasi penderitaan dengan mencari hiburan sehingga riuhlah satu rumah, satu kelurahan atau satu desa karena suara mikrofon hingga lewat tengah malam ataupun sampai pagi. Sebab, kegembiraan sejati ini letaknya bukan pada keriuhan melainkan pada keheningan batin. Karena itulah saya nggak selalu percaya terhadap slogan para pelaku bisnis hiburan yang berkata: “Hati yang riang adalah obat”. Mesti diperiksa dulu. Apakah riang itu memang ungkapan batin atau pelarian. Kalau pelarian, riang yang gitu malah jadi sumber penyakit. Karena selekas selesai keriuhan itu seseorang akan berjumpa lagi dengan batinnya yang sebelumnya dicoba untuk berusaha lari darinya. Padahal batinnya tidak pernah ketinggalan walaupun seseorang berusaha meninggalkan dengan lari sekencang-kencangnya.

Hari ini keluarga Fransiskan berpesta. Di seluruh dunia tersebar para pengikut Santo Fransiskus dengan segala kekhasan hidupnya. Katanya pribadi Santo Fransiskus masih amat relevan pada jaman ini, sehingga banyak orang mengikut jejaknya, entah yang tidak dibolehin menikah karena kaul dan tahbisan maupun yang telah menikah berjuang menghidupi kekhasan spiritualitasnya. Bacaan Kitab Suci yang disampaikan kepada kita berbeda dengan penanggalan liturgi harian kita tetapi bukan bertentangan. Perikop hari ini dipilih sengaja untuk mengajak kita semakin mendalami kegembiraan sejati Fransiskus. Orang kudus ini sejak awal sudah terpesona dengan kehinaan Kristus yang tersalib. Dan sebagai tanda kedekataannya dengan Kristus yang tersalib, saat-saat akhir hidupnya ia mengalami luka-luka penyaliban Tuhan. Ini karunia Allah yang ada pada sejarah hidup Fransiskus. Luka itu menyakitkan tetapi Fransiskus justru bergembira mengalaminya. Kalau Gereja saat ini berpesta karena pengalaman Santo Fransiskus Assisi yang mengalami luka-luka Kristus, itu berarti kita umat beriman mau ikut serta dalam pengalaman Fransiskus. Pengalaman terluka, pengalaman pahit, pengalaman menderita, pengalaman tertindas adalah bagian hidup kita. Masih bisa tersenyum saat kita mengalaminya? Santo Fransiskus Assisi doakanlah kami!

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply