Renungan

Bernilai Bagi Diri Dan Sesama

 12 total views,  4 views today

Senin, 20 September 2021 ; St. Andreas Kim Taegon

St. Paulus Chong, dkk, Ezr 1:1-6, Luk 8:16-18

Sesuatu yang amat berharga pastilah ditempatkan pada tempat yang tinggi. Lebih dari sekadar ukuran, tinggi yang dimaksud juga adalah menunjuk nilai. Ya, semakin bernilai semakin tinggi posisinya dan karena itu semakin kelihatan. Biasanya kalau begitu, tanpa niat memperlihatkan pun ya memang akan kelihatan. Entah tindakan sesederhana apa pun, kalau bernilai akan kelihatan dan menginspirasi banyak orang. Sekali lagi, ini bukan tentang tindakan-tindakan yang amat hebat. Ini tentang kesederhanaan. Pancaran nilai yang ada dalam tindakan seseorang. Maka, bolehlah kita semakin melihat bahwa ternyata kebesaran tindakan seseorang bukan terletak pada promosinya, melainkan nilainya. Nilailah hendaknya mempromosikan.

Dalam Injil hari ini kita baca bahwa Yesus berkata: “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur; tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah melihat cahayanya.” Barangkali sekarang ini kita amat jarang dan bahkan sulit menemukan pelita. Yang ada ialah bola lampu yang dialiri arus listerik. Keduanya memang berfungsi sama. Karena itulah ditempatkan pada posisi yang sama. Nggak ada orang yang memasang lampu sejak semula di bawah tempat tidurnya. Palingan itu bisa terjadi kalau mau mencari sesuatu di bawah tempat tidurnya atau urusan tertentu. Lampu selalu dipasang di atas agar menerangi seluruh kamar. Pemikiran itu digunakan Yesus untuk mengajari kita agar tindakan yang baik dan benar layak ditempatkan pada tempat yang benar. Bukan karena tempatnya benar, melainkan karena memang tindakan itu benar sehingga posisinya benar. Tidak sediki orang membuat tindakannya seolah-olah benar dan semakin berusaha menempatkannya pada posisi yang benar. Padahal, dari sononya memang tindakannya nggak layak tampil. Bahayanya, semakin dipaksakan untuk kelihatan malah makin memalukan dan tidak berarti apa-apa. Yang baik dikenal baik bukan karena dipromosikan, melainkan karena bernilai dan baik maka semua orang melihatnya. Marilah kita berdoa: “Tuhan, Engkaulah kebaikan tertinggi. Semoga kebaikan-Mu mengaliri diri kami dan suatu saat memancar keluar dari diri kami kepada sesama”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply