Renungan

Tuhan murah hati, kita?

 70 total views,  2 views today

Rabu, 18 Agustus 2021
Hak 9:6-15
Mat 20:1-16a

Saya tidak tahu darimana asal usul kata “iri” walaupun sudah sering kudengar kata itu. Barangkali yang membaca renungan ini mampu memberi penjelasan kepadaku. Tolong ya! Iri hati umumnya diartikan sebagai suasana hati yang tidak suka melihat orang lain bahkan sampai membenci orang lain. Ketidaksukaan itu tidak hanya situasi batin lagi, tetapi ditunjukkan lewat tindakan. Entah itu melalui protes, bersungut-sungut, mencibir, mengejek, menyindir, menggosip dan sebagainya. Ada sejuta alasan orang untuk iri hati terhadap orang lain. Bisa jadi karena ia tidak bisa sukses sesukses orang lain. Atau karena tidak bisa jahat sejahat orang lain, ia iri melihat orang lain karena dirinya tidak digelari penjahat kelas kakap seperti orang lain yang benar-benar kakap sebagai penjahat. Hehehe. Pokoknya lihat sendiri sajalah apa-apa yang bisa membuat iri melihat orang lain.

Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus membuat perumpamaan. Ada tuan yang mencari orang untuk bekerja di kebun anggurnya. Upahnya sedinar sehari. Setelah deal maka mulailah pekerja itu bekerja. Ternyata, tuan itu amat baik. Ketika sedang jalan-jalan ia lihat lagi ada orang yang cuma duduk-duduk menganggur, ia ajak juga orang-orang itu ke kebun anggurnya walaupun udah nggak waktu normal lagi memulai pekerjaan sebagai seorang upahan harian. Tibalah saat penggajian. Eh malah sama rata, semua dapat satu dinar. Pekerja yang bekerja sejak pagi protes melihat upah yang diberikan sama dengan kepada orang yang datang sesudah lewat pagi. Tuan berkata: “Iri hatikah engkau karena aku bermurah hati?” Perumpamaan ini mengajak kita untuk menyadari betapa Allah mau mengumpulkan kita semua untuk berada dalam kebun anggur-Nya. Upah kita hanya satu, yakni Kasih-Nya. Dengan upah yang satu dan sama itu kita diajak untuk mampu saling mencintai sehingga kerajaan-Nya nyata. Namun seringkali bukan itu yang terjadi. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami mengutamakan Cinta-Mu daripada keinginan kami”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply