Renungan

Jalan Bahagia Orang Beriman

 21 total views,  4 views today

Renungan Harian : Senin, 07 Juni 2021, 2Kor 1:1-7, Mat 5:1-12

Semua orang ingin berbahagia dalam hidupnya. Tetapi, kebahagiaan itu harus dicari dengan kebahagiaan. Tanpa itu, kebahagiaan akan menjadi sekadar impian. Seorang tukang bangunan akan menghasilkan bangunan yang kokoh, megah, memuaskan dan itu membahagiakan kalau dia mengerjakannya dengan bahagia. Sebaliknya, tukang yang tidak bahagia dalam mengerjakan suatu bangunan akan bersungut-sungut dan tidak sepenuh hati bekerja. Hasilnya pun akan tidak memuaskan dan tidak membahagiakan. Berbahagia tidak sama dengan tertawa hura-hura, riuh ataupun tepuk tangan sambil jingkrak-jingkrak.

Yesus dalam Injil hari ini memberi pengajaran tentang kebahagiaan bagi para pengikut-Nya. Sebelum Yesus datang, sudah banyak tokoh yang memperkenalkan ajaran tentang kebahagiaan. Kelebihan ajaran Yesus mengenai kebahagiaan ialah: kebahagiaan bukanlah puncak pencapaian, melainkan cara dan tindakan apa yang dipilih manusia dalam menjalani hidupnya. Ajaran Yesus yang disebut juga Delapan Sabda Bahagia dalam Injil hari ini dibuka dengan: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.”Kebahagiaan tidak ditentukan oleh materi, karir, seberapa banyak telah dikumpulkan atau seberapa tinggi jabatan dan gelar yang telah diraih. Kebahagiaan yang diajarkan oleh Yesus diraih dengan seberapa bebas manusia mencintai Allah. Dan untuk mampu mencintai Allah memang harus benar-benar miskin. Bukan hanya miskin dalam materi, tetapi juga miskin dalam segala kepentingan dan ego pribadi. Sebab, materi dan segala kepentingan dan ego pribadi bisa mengikat kaki untuk tidak bebas melangkah menuju kebahagiaan yang dijanjikan Yesus. Sementara orang yang miskin di hadapan Allah merasa bahwa apa yang dimilikinya akan membuatnya semakin mudah berjalan dan ringan untuk berjumpa dengan Allah sebab orang seperti itu mengakui kebahagiaan bersumber dari kedekatan dengan Allah, bukan dari pencapaian materi atau jabatan.

Marilah kita berdoa: “Tuhan, Engkaulah kekayaan kami agar kami berbahagia”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply