Renungan

Alasan Marah

 24 total views,  5 views today

Renungan Harian : Kamis, 10 Juni 2021, 2Kor 3:15-4:1.3-6, Mat 5:20-26

Semua orang bisa marah. Marah itu sehat. Aneh kalau orang nggak pernah marah. Boleh disebutkan satu per satu keanehan apa yang saya maksud kalau seseorang nggak pernah marah. Sebab, marah adalah dinamika psikologi seseorang. Persoalannya ialah sering orang marah tanpa dibarengi oleh dasar dan tujuan mengapa harus marah. Karena itu, yang tak perlu seharusnya marah pun jadi marah. Ini pun tak kurang anehnya dari orang yang tak pernah marah. Dua sikap itu sama-sama aneh. Yang nggak pernah marah dan yang asal marah. Bisa jadi ada yang tidak beres dalam kepribadian sehingga bisa jatuh pada salah satu sikap itu.

Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus berkata: “Setiap orang yang marah terhadap saudaranya, harus dihukum.” Ajaran ini disampaikan oleh Yesus untuk melawan ajaran orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang selalu menganggap rendah orang lain. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat selalu merasa diri hebat karena menguasai pasal, aturan, dan segala macam tulisan-tulisan yang berkaitan dengan ritus keagamaan. Mereka sulit terbuka terhadap orang lain. Mereka justru makin tertutup dan otak mereka makin sempit sehingga sulit menerima orang lain walaupun mereka menguasai hukum Taurat. Inilah yang membuat mereka mudah marah alias naik pitam. Kemarahan mereka adalah pelampiasan untuk mengobyekkan orang lain. Kemarahan seperti itu adalah kemarahan orang yang primitif. Menganggap diri hebat sehingga mudah memperlakukan orang lain semena-mena.

Marilah kita berdoa: “Tuhan, ciptakanlah hati yang murni dalam diri kami”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply