Artikel

KOMUNIKASI DEVIDE ET IMPERA

 46 total views,  2 views today

Hai temans, kalian pasti tahu dong apa tuh artinya devide et impera. Itu lhoooo, politik pecah belas alias adu domba yang diterapkan oleh pemerintah koloni Belanda waktu menjajah bangsa kita. Nah, istilah memecah belah pun sampai kini masih sering dipake juga lho, utamanya dalam soal komunikasi.

Guys!!!! Pasti tahu kan, kalau dalam kehidupan harian kita, komunikasi adalah sarana sekaligus cara kita menjalin relasi atau hubungan dengan sesama kita. Nah, sejatinya komunikasi memiliki tujuan dan manfaat yang baik. Tapi guys, meskipun begitu perlu kita sadari bahwa perkembangan dunia zaman sekarang yang kian pesat terus membawa perubahan yang sangat besar dalam kehidupan manusia. Ternyata, perubahan yang terjadi gak hanya memberi dampak yang baik tapi juga dampak yang kurang baik bahkan yang buruk lho. Semua dampak yang dibawa oleh perkembangan zaman dan perubahan kehidupan selalu terkoneksi dengan manusia yaitu para pelaku kehidupan, termasuk aku dan kamu.. hehehe.. iya kamu. Apa sih dampak buruknya? Nah, dampak buruknya adalah kemerosatan nilai kehidupan yang membawa perubahan tingkah laku pada manusia. Akibatnya komunikasi yang kita gunakan dalam menjalin relasi dengan sesama, mengalami gangguan yang berujung pada perselisihan yang merusak hubungan kita sebagai makluk sosial dalam relasi dengan sesama.

Ayo teman-teman, apa sih makna dari kata Komunikasi? For your information, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ‘Komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami.’ (Sumber: KBBI Online). Dalam tulisan ini, secara istimewa kita diajak untuk bersama merenungkan ‘Mengutamakan komunikasi manusiawi untuk memerangi komunikasi yang memecah belah (Sosial Media: pedas, mengancam, merusak, mematikan)’. Tentu saja ada sebuah gejala tidak sehat yang terjadi, bukan hanya di tengah masyarakat dunia (masyarakat awam) tetapi bahkan di dalam kehidupan menggereja kita dan juga keluarga kita masing-masing. Wah.. wah.. wah.. bahaya nih, kalau begitu kita perlu merenungkan sejauh mana komunikasi kita selama ini baik dalam kehidupan bermasyarakat, menggereja dan dalam keluarga kecil kita. Apakah kita menggunakan cara komunikasi yang baik yang mempersatukan? Atau kadang kita lalai dan menggunakan komunikasi yang keliru sehingga terjadi perselisihan!

Ehh. guys, dalam rangka memperingati hari komunikasi, kita diajak untuk mau dan berani mengutamakan komunikasi manusiawi untuk memerangi komunikasi yang memecah belah (Sosial Media: pedas, mengancam, merusak, mematikan). Apa itu komunikasi manusiawi dan apa itu komunikasi yang memecah belah? Untuk memahaminya, maka kita harus tahu apa saja bentuk dan sarana komunikasi yang cenderung membawa masalah, yang menimbulkan perpecahan dalam relasi kehidupan dengan sesama.

Woke guys, sekarang pada kita ditunjukkan bahwa yang cenderung menjadi sarana komunikasi yang memecah belah yaitu sosial media yang hampir setiap saat kita gunakan. Oups… ternyata sosial media sering bernada pedas, mengancam, merusak dan mematikan. Kalau media sosial dipandang sebagai media/sarana komunikasi yang cenderung memecah belah, lalu apa yang dimaksud dengan komunikasi manusiawi yang harus kita utamakan?

Guys, dalam upaya kita mengutamakan komunikasi manusiawi untuk memerangi komunikasi yang memecah belah, kuy.. kita refleksikan dulu artikel ini:

Memperingati Hari Media Sosial Nasional yang jatuh setiap 10 Juni, Willy Aditya menggugah pengguna sosial media untuk tetap menjadikan media sosial sebagai medium komunikasi manusiawi. Hal penting disampaikan karena makin banyaknya platform komunikasi digital yang hadir sebagai pilihan warga.  “Saat ini kita dihadapkan pada banyaknya platform media sosial untuk saling berhubungan dan berkomunikasi antar warga. Tapi karena kemunculannya bukan berasal dari geliat perkembangan komunikasi alamiah antarwarga, maka banyak efek yang tidak kita duga sebelumnya. Komunikasi manusiawi yang sejak dulu dihadirkan lewat tatap muka langsung, harus terus menjadi titik pijak menggunakan media sosial”. Willy Aditya menjelaskan hubungan tatap muka antarwarga yang dahulu terbatas teknologi nyatanya justru memelihara keguyuban. Komunikasi tatap muka yang alamiah ada sejak lama, menurutnya banyak memberi manfaat sosial yang masih belum tergantikan dengan media sosial apapun. “Kurangnya komunikasi manusiawi memudahkan terjadinya salah paham, desas-desus, kabar bohong dan lainnya. Ini sedang kita hadapi sekarang dengan makin banyaknya kasus-kasus hukum di ranah media sosial. Seseorang dengan mudah menciptakan informasi palsu, fitnah dan lainnya lalu memuatnya di media sosial dan akhirnya tersebar luas dan berakhir dengan tindakan hukum”.

Kisah di atas menjadi cerminan bagi kita dalam upaya kita untuk lebih jauh merenungkan pengalaman komunikasi kita dalam setiap relasi dan pengalaman perjumpaan dengan sesama.

Hidup Menjadi Cerita

Sekarang ayo kita renungkan pengalaman komunikasi kita dalam terang Kitab Suci dan dari pesan Paus Fransiskus. Bapa Suci Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke 54 pada tahun 2020 mengangkat tema: ‘HIDUP MENJADI CERITA- Menjahit Kembali yang Putus dan Terbelah’. Hidup kita memang penuh cerita namun Bapa Suci mengajak kita agar kita mengupayakan “Cerita yang baik supaya tidak tersesat; Cerita membangun bukan menghancurkan; Cerita yang menemukan kembali akar dan kekuatan untuk bergerak maju bersama”. Bergerak dari tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke 54, perjuangan panjang selama satu tahun diteguhkan oleh Firman Tuhan dalam surat Paulus kepada jemaat di Efesus. Dalam teks Kitab Efesus 4 :17-25 tentang “Manusia Baru” secara khusus pada ayat 25 di sana dikatakan ‘Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.’ Moment peringatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 55 pada tahun 2021 ini, menjadi kesempatan baik bagi kita agar mau dan berani untuk menanggalkan manusia lama kita dan mengenakan manusia baru, manusia yang berani mengatakan kebenaran.

Guys, komunikasi yang memecah belah memang tidak terhindarkan, tapi jangan panik dulu, karena selalu ada cara untuk memerangi ‘kejahatan’. Nah, untuk itu gagasan ‘Mengutamakan komunikasi manusiawi untuk memerangi komunikasi yang memecah belah (Sosial Media: pedas, mengancam, merusak, mematikan) menjadi jalan keluar bagi kita untuk memerangi segala bentuk upaya pemecah belah persaudaraan dan kesatuan umat manusia.

Guys, kita dipanggil untuk menjadi manusia baru yang berani menyampaikan kebenaran, kita juga diingatkan agar tetap memperhatikan komunikasi manusiawi yang saling menghormati. Tuhan Yesus dalam injil Matius 18:15 menasehatkan kepada kita: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali”. Perkataan Yesus ribuan tahun yang lalu sangat relevan dengan kehidupan dunia kita sekarang lho. Seringkali kita lebih suka membicarakan kesalahan, kekurangan, kelemahan sesama dari pada menegornya secara langsung. Akibatnya saudara kita yang salah gak tau kesalahannya, sementara itu kesalahannya kita umbar dan menjadi cerita yang menghancurkan kehidupan saudara kita, atau biasa kita sebut dengan ‘gosip’.

Nah. guys, pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 55 tahun ini, kita dipanggil dengan suara yang semakin lantang agar kita lekas bergerak memperbaiki realita dari cara komunikasi yang menghancurkan. Agar panggilan hati kita dalam upaya ‘Mengutamakan komunikasi manusiawi untuk memerangi komunikasi yang memecah belah(Sosial Media: pedas, mengancam, merusak, mematikan’ semakin kuat. Guys, kita juga akan melihat pesan bapa suci.  Paus Fransiskus dalam rangka Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 55 mengangkat tema: ‘Datang dan Lihatlah’. Melalui tema ini bapa suci mengajak kita untuk ‘Berkomunikasi dengan Menjumpai Orang Lain Apa Adanya’. Selanjutnya bapa suci juga mengingatkan kita bahwa: ‘Kita semua dipangil menjadi saksi kebenaran yaitu untuk pergi, melihat dan berbagi. Panggilan ini sangat membutuhkan komunikasi manusiawi lewat perjumpaan. Semoga dengan ini kita semua mau dan berani bergerak bersama memerangi komunikasi yang memecah belah.

Ayo guys, mari kita kenakan manusia baru yang mau datang dan melihat secara langsung. Mari membuka diri pada perjumpaan dengan semakin banyak orang dan kita bangun komunikasi yang baik. Jangan mager! Kuy gerak bareng, gak boleh tinggal diam jadi penonton yang tenggelam dalam inovasi teknologi masa kini. God Bless!

Oleh: Henrik Cristian Sianturi

Leave a Reply