Renungan

Yesus adalah Pintu

 77 total views,  4 views today

Senin, 26 April 2021 ; Kis 11:1-18 , Yoh 10:1-10

 

Saya nggak ingat lagi percis kapan saya berbicara tentang jogging dalam tulisan renungan harian ini. Saat ini juga saya mau bicara tentang pengalaman jogging beberapa hari yang lalu. Sambil jogging, saya menikmati pemandangan di sore hari apalagi saat ini, bulan Ramadhan. Amat terkesan hatiku melihat sekelompok anak yang membagi-bagikan makan di pinggir jalan untuk takjil. Saat saya melewati lorong permukiman kaum muslim, seorang ibu yang sudah kukenal berkata: “Pastor, mampir dulu.” Yah… Saya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu karena saya melihat mereka sedang asyik menikmati hidangan buka puasa. Gembira sekali ibu itu karena saya mau singgah walaupun saya dengan celana pendek dan sepatu plus kaus kaki yang sudah bau keringat mungkin karena jogging. Sambil ngobrol santai dan bercanda menjadi ungkapan persaudaraan yang merekatkan satu sama lain.

Dalam Injil hari Yesus menyebut diri-Nya sebagai pintu kepada domba-domba. Tidak mudah memahami ini setelah kemarin Yesus menyebut diri-Nya sebagai Gembala. Apa yang dapat kita mengerti tentang pintu? Orang masuk dan keluar dari rumah atau ruangan harus melalui pintu. Dengan melalui pintu, kita tahu darimana dan akan kemana. Kalau Yesus menyebut diri-Nya pintu, itu berarti hanya melalui Dia kita memiliki arah yang jelas dan memiliki tempat yang jelas. Tempat itu adalah tempat yang nyaman, tempat yang membuat kita satu sama lain memiliki relasi yang baik sebagai domba-domba yang dipersatukan. Relasi seperti itulah yang saya rasakan dalam pengalaman saya jogging beberapa hari yang lalu. Cara pandang dan orientasi kita hendaknya selalu tertuju pada Kristus dalam berjalan dan berelasi di dunia. Persaudaraan sejati dan pengorbanan adalah nilai yang diajarkan Yesus dan itu bisa kita wujudkan kalau kita selalu melalui Pintu, yakni Yesus Kristus. Pintu kami sama, yakni pintu menuju kehidupan yang mengajarkan persaudaraan sejati walaupun agama kami berbeda. Karena itulah tertawa dan bercanda menjadi hiasan yang indah karena muncul dari lubuk hati. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami berjalan melalui Pintu yang membuat kami memperoleh kehidupan.”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply