Renungan

Sikap Menghadapi Kritik dan Penolakan

 231 total views,  2 views today

Rabu 14 April 2021; Kis 5:17-26, Yoh 3:16-21

Beberapa waktu yang lalu saya mendengarkan obrolan sekelompok orang sebelum saya ikut juga ngobrol dengan mereka. Yang mereka omongkan ialah bagaimana mereka melayani, memberi diri dan berusaha membuat yang terbaik di tempat pelayanannya. Tetapi, tidak semua berjalan baik adanya. Terlontar juga kesulitan-kesulitan yang menjadi tantangan. Namun, amat terkesan bagiku kata-kata seorang senior yang berkata: “Kalau nggak siap dikritik dan ditolak, kalian bisa menjadi stres. Maka, perlu diusahakan cara yang kreatif agar tetap segar dan kuat. Satu-satunya cara ialah menyadari bahwa ada yang setia mencintai kita dalam situasi tersulit pun. Dan yang mencintai itu adalah bukan manusia biasa saja. Cintanya pun bukan cinta biasa-biasa”. Saya manggut-manggut saja. Sebab, yang berbicara ini sudah senior. Dalam diamku tak berhenti pikiranku untuk mengolah dan menelaah apa maksudnya cinta yang bukan biasa-biasa.

Sebagai kelanjutan percakapan Yesus dan Nikodemus, dalam Injil hari dikisahkan bahwa Yesus berkata: “Begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Memahami kasih Allah yang begitu besar adalah karunia bagi umat beriman. Ukuran untuk melihat besarnya kasih Allah ialah melihat wajah Putera-Nya yang menyerahkan diri di salib. Bagi umat beriman, menatap Kristus senantiasa berarti mengarahkan hidup pada jalan hidup Kristus. Dalam jalan hidup seperti itulah orang beriman mengalami karunia, termasuk karunia mengalami cinta illahi walaupun hidup mengalami penolakan dan pergolakan di dunia. Betapa luar biasa bersyukurnya seorang beriman kalau tetap merasa dicintai walaupun dihimpit oleh luka dan derita. Marilah kita berdoa: “Hanya karena kasih-Mu ya Tuhan kami mampu meneruskan peziarahan hidup ini”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Comments (2)

  1. Gak bisa terima komentar menghalangi diri sendiri untuk lebih dewasa

Leave a Reply