Renungan

Menjadi Pengikut Yesus yang Mampu Bersyukur dan Berbagi

 194 total views,  2 views today

Jumat, 16 April 2021; Kis 5:34-42, Yoh 6:1-15

Kenyang perut belum tentu kenyang rohani. Itu saya kutip dari tulisan seorang penulis buku-buku bacaan rohani. Orang sering mencari kepuasan manusiawi. Pencarian itu dilakukan untuk memenuhi keinginan sendiri. Tidak sulit melihat itu. Lihat saja orang-orang yang dikenal sudah mapan hidupnya dari segi ekonomi tetapi masih ikut memperpanjang barisan orang-orang yang masuk bui hanya karena ingin memenuhi keinginannya. Tidak salah memenuhi keinginan. Yang salah adalah kegagalan memahami aspek-aspek dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat pemuasan kebutuhan itu. Misalnya, karena memuaskan keinginan membuat orang lain jadi korban. Merugikan orang lain demi pemuasan kebutuhan pribadi sangat berlawanan dengan pandangan bahwa manusia adalah makhluk sosial.

Dalam Injil hari dikisahkan tentang pergandaan roti yang dilakukan oleh Yesus. Ceritanya begini: Yesus makin populer karena tindakan-Nya. Maka, orang-orang yang mendengar apa yang dibuat oleh Yesus tertarik untuk mengikuti-Nya. Nah, orang-orang yang mengikuti Yesus melihat Yesus sebagai tukang buat mukjizat. Dekat dengan tukang mukjizat maka hidup akan tenang-tenang saja. Begitulah pemikiran mereka. Trus, apa artinya bagi para pengikut? Yang tukang ikut saja. Di sinilah letak persoalannya. Orang-orang itu dekat dengan Yesus ternyata mau cuma hidup gratisan saja. Mereka yakin bahwa ikut dengan Yesus akan mapan dan nyaman. Yesus bisa menyembuhkan, maka nggak usah repot-repot mikirin biaya berobat. Yesus bisa menggandakan roti, maka nggak usah pusing pala barbie cari makan. Yesus melawan pandangan seperti itu. Mukjizat memang karya Allah, tetapi bukan membuat manusia jadi seperti batu yang membisu dan tak dapat berbuat apa-apa. Yesus mengambil roti dan ikan serta mengucap syukur atasnya kemudian membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ. Dengan itu ditegaskan bahwa hanya orang yang bersyukurlah bisa berbagi. Yesus sang Raja adalah mesias namun Ia tidak tinggal pada singgasana. Ia dekat dengan kita sebagaimana Ia harapkan pula agar kita dekat dengan sesama. Awalnya bukan karena sama-sama kenyang perut, melainkan karena kita mengucap syukur dan berbagi sehingga semakin mengalami kehadiran Tuhan yang mempersatukan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, hanya Dikaulah yang mengenyangkan kami agar kami mampu bersyukur dan berbagi”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply