Renungan

Lahir Kembali

 157 total views,  2 views today

Selasa, 13 April 2021; Kis 4:32-37, Yoh 3:7-15

Setelah dua minggu mengalami duka dalam situasi Paskah, renungan harian ringan kembali hadir ke tengah-tengah pembaca. Konteksnya pun masih duka tetapi duka yang sudah berangsur-angsur dicahayai oleh terang Paskah, Kebangkitan Tuhan. Karena itu, maklumlah pembaca kalau bahasa penulis masih melow 😊😊😊. Kebangkitan Tuhan adalah sukacita besar yang harus dirayakan. Namun, tepat pada saat saya sedang mempersiapkan diri untuk merayakan kegembiraan besar itu, saya dihadapkan dengan peristiwa kematian. Awalnya saya melihat bahwa kedua peristiwa itu bertentangan, tetapi akhirnya saya mengerti sebagai peristiwa yang saling melengkapi sebagai kesempurnaan peziarahan hidup. Landasannya tentu adalah iman. Tanpa itu, kenyataan hidup entah kematian, derita, maupun keberhasilan atau sukacita bisa mengawang-awang tak punya arah.

Dalam Injil hari ini disampaikan kelanjutan percakapan Nikodemus dengan Sang Guru dari Nazaret. Saya nggak tahu apakah bandingan percakapan kedua sosok itu boleh dikatakan percakapan antara seorang Profesor Nikodemus dengan seorang tukang kayu Yesus. Tetapi, amat jelas dari percakapan itu, bahwa Nikodemus amat linglung kebingungan karena tak mengerti dan tak memahami kata-kata Yesus berkaitan dengan “dilahirkan kembali”. Jangankan Nikodemus, ahli medis sekarang pun memang nggak bisa menerima itu. Bagaimana mungkin seseorang dilahirkan kembali? Syukur-syukur kalau ibu yang melahirkan masih hidup. Kalau sudah tiada seperti saya ini, bagaimana? Ternyata, kelahiran kembali yang dimaksud Yesus tidak dipahami oleh Nikodemus walaupun Nikodemus adalah pengajar Israel yang brilian. Yesus menegaskan bahwa kelahiran kembali adalah proses orang beriman untuk semakin mengalami pembaruan dan pemurnian iman dari waktu ke waktu. Sarananya bisa lewat pengalaman sedih, duka, bahagia, berhasil dan sebagainya. Pengalaman itu semua bisa menjadi sarana untuk membuat umat beriman jadi baru kalau selalu terbuka pada Roh Allah. Sebab, setiap orang beriman lahir dari Roh. Marilah kita berdoa: “Tuhan, kami mau lahir kembali”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply