Renungan

Tindakan Yang Melampaui Kata – Kata

 6 total views,  2 views today

Senin, 29 Maret 2021, Senin Pekan Suci, Yes 42:1-7, Yoh 12:1-11

Dalam situasi terpuruk, kita sangat membutuhkan sesama yang sungguh dapat mendukung. Sesama itu bisa saja keluarga, sahabat dan siapa saja yang bisa mengerti dan memahami keterpurukan kita. Pernyataan ini jangan dimengerti bahwa harus terpuruk dulu baru menghubungi sahabat atau orang-orang dekat. Bukan begitu. Persahabatan atau kedekatan tidak bisa dipenggal waktu. Namun, saat manis-manisnya persahabatan atau kedekatan itu kita rasakan di saat pahit-pahitnya hidup terasa ada yang mendukung. Hehehe. Mungkin para pembaca bisa mengingat lagi pengalaman seperti itu.

Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus bertamu ke rumah Lazarus di Betania. Di situ ada pula Marta dan Maria. Yesus adalah figur yang istimewa bagi keluarga itu. Yesus membangkitkan Lazarus. Perjamuan di rumah itu diadakan saat situasi sudah sengit. Yesus sudah menjadi target orang-orang Yahudi untuk mereka bunuh. Sebab, Yesus semakin memiliki banyak pengikut apalagi mendengar tentang apa yang diperbuat Yesus terhadap Lazarus. Nah, dalam situasi seperti itu Yesus tetap santai dan menikmati relasi yang hangat dengan teman-temannya. Ya, ada Marta, Maria dan Lazarus. Maria tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Diambilnya minyak narwastu dan diminyakinya kaki Yesus lalu disekanya dengan rambutnya. Tidak semua orang bisa mengerti tindakan Maria itu. Yudas Iskariot adalah seorang yang termasuk tidak mengerti tindakan Maria. Tindakan Maria itu melampaui kata-kata juga mau menegaskan bahwa ada saatnya kita tidak mampu lagi menerangkan kedekatan kita terhadap seseorang dengan kata-kata, maka kita membuat tindakan yang melampaui kata-kata, yang orang lain mungkin tidak mengerti. Atau bisa jadi mengertinya dari sudut penilaian untung dan rugi. Bagi Maria, kedekatannya dengan Yesus ada dalam bingkai ketulusan dan kemurnian hati, karena itulah pula bernilai profetis. Ternyata, tindakan Maria juga menjadi simbolisasi perasaan dan suasana batin terhadap derita dan wafat Yesus. Hanya orang yang saling dekat memang memiliki kontak batin sehingga tahu apa yang harus dibuat pada waktu yang tepat. Marilah kita berdoa: “Tuhan, apa yang Kau mau untuk kami lakukan agar kami ikut dalam sengsara-Mu”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply