Renungan

Pasrah Kepada Kehendak Tuhan

 175 total views,  4 views today

Selasa, 23 Maret 2021 ; Bil 21:4-9, Yoh 8:21-30

Setelah kami Vaksin tahap pertama kemarin, seorang seniorku berkata: “Yuk kita rayakan dulu vaksinasi ini dengan ngobrol sambil makan santai.” Rasanya memang perlu merayakannya bukan hanya karena tidak cemas dan deg-degan saat disuntik vaksin, melainkan juga karena bertemu dengan petugas-petugas kesehatan yang baik dan ramah. Setelah ngobrol di tempat kami makan itulah baru saya tahu bahwa seniorku tadi agak sedikit tegang menerima suntikan vaksin. Beliau cerita dan saya tersenyum saja. “Tetapi, ya sudahlah mau apalagi. Harus pasrah demi yang terbaik” katanya. Kata-kata inilah kata-kata indah menurutku. Untuk yang terbaik perlu pasrah bukan menyerah. Dalam sikap pasrah ada keteguhan hati untuk mau mewujudkan misi tertentu dan bersiap menerima kenyataan yang terjadi di luar pikiran dan kehendak manusiawi kita.

Melalui Injil hari ini semakin dijelaskan kepada kita tentang akhir hidup Yesus. Yesus berkata: “Aku akan pergi dan kamu akan mencari Aku; tetapi kamu akan mati dalam dosamu. Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang.” Dalam kata-kata Yesus ini tersirat perasaan miris terhadap orang-orang yang tetap mempertahankan pandangan pribadinya walaupun Yesus telah berusaha menjelaskan tentang siapa diri-Nya dan apa misi-Nya. Orang tetap kesulitan memahami dan mengerti Yesus dan tugas perutusan-Nya. Ini pula yang menjadi tantangan kita orang beriman pada jaman ini. Di satu sisi kita sangat bangga punya Bapa, Tuhan yang senantiasa peduli terhadap hidup kita. Namun, pada sisi lain kita sulit untuk memasrahkan hidup kita kepada-Nya untuk mengikuti-Nya kemana pun Ia pergi. Masalahnya, sudah sulit mengerti dan memahami jalan-jalan-Nya, kita tidak mau bertanya kepada-Nya. Yang tetap kita ikuti ialah jalan-jalan pikiran kita, dorongan-dorongan pribadi kita. Sehingga, tuhan yang kita ikuti adalah tuhan hasil pemikiran kita, bukan Tuhan yang menyatakan diri-Nya kepada kita, yaitu Tuhan yang Esa dan Penyayang. Marilah kita berdoa: “Tuhan, Wajah-Mu kami cari ya Tuhan”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply