Renungan

Takhta Santo Petrus

 123 total views,  3 views today

Senin, 22 Februari 2021 : Pesta Takhta Santo Petrus, 1Ptr 5:1-4, Mat 16:13-19
Banyak orang bercita-cita menjadi pemimpin. Di negara kita tercinta ini, cita-cita untuk menjadi pemimpin difasilitasi dengan sistem dan pengkaderan sesuai dengan alam demokrasi. Walaupun sistem itu memiliki kelemahan, namun sistem ini masih diyakini sebagai sistem terbaik untuk melahirkan pemimpin. Maka pencederaan terhadap demokrasi sejatinya adalah pencederaan terhadap proses melahirkan pemimpin. Dengan mencederai demokrasi, proses untuk melahirkan pemimpin tidak alami dan tidak sejati, melainkan palsu.
Dalam Injil hari ini dikisahkan tentang kuasa yang diterima oleh Petrus dari Yesus. Sebelumnya, Sang Guru dari Nazaret bertanya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, Elia, Yeremia atau salah seorang dari para nabi. Kemudian Yesus bertanya kepada mereka:”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” Jawaban Simon Petrus bukanlah jawaban pribadi. Ia tampil mewakili banyak orang. Dalam perjalanan hidupnya, Petrus berjuang untuk mewartakan bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Ia konsisten terhadap jawabannya. Pewartaan Petrus hingga akhir hidupnya menunjukkan bahwa apa yang dikatakannya itu diwartakannya dan dihidupinya. Pengenalan Petrus terhadap Yesus membuat ia memiliki kuasa sebab tanpa kuasa itu, Petrus tidak memiliki apa-apa. Kuasa yang dimengerti di sini bukanlah kuasa untuk memperbudak atau memaksa apalagi menginjak martabat dan hak orang, melainkan kuasa yang membuat orang mengalami bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup. Kuasa seperti itu membuat orang semakin mengalami bahwa Yesus hadir, berkarya dan membuka kemungkinan agar banyak orang mengalami kedekatan dengan Dia. Tahktanya bukan terletak pada kursi, tetapi jauh lebih dari itu, takhtanya ada pada hati yang semakin luas yang terbuka untuk ditempati oleh banyak orang yang ingin mengalami perjumpaan dengan Kristus. Itulah pemimpin. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami mengusahakan agar hati kami jadi tahkta-Mu”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply