Renungan

Menunaikan Ibadah Puasa

 31 total views,  2 views today

Jumat, 19 Februari 2021 : Yes 58:1-9a, Mat 9:14-15

Tadi malam saya agak terharu (memang selama ini pun saya mudah terharu 😁😁😁) mendengar pengakuan seseorang pecandu obat terlarang yang kembali tertangkap dan ditahan oleh polisi padahal baru saja keluar dari penjara. “Saya minta maaf kepada semua, khususnya keluarga karena perbuatan saya. Selama ini saya sungguh berjuang mengurangi perilaku adiktif saya terhadap obat terlarang itu”, katanya sambil menitikkan air mata. Keterharuan saya bukan karena air matanya, melainkan pengakuannya yang mengungkapkan bahwa mengurangi ketergantungan atau kebiasaan nikmat terhadap obat terlarang itu amat sulit. Mengurangi sikap terhadap hal-hal yang mendatangkan nikmat memang sulit. Karena itu butuh keteguhan dan motivasi yang kuat. Perlu motivasi dan orientasi yang tepat agar sikap mengurangi kenikmatan-kenikmatan itu bukan sekadar kewajiban atau kedisiplinan, melainkan usaha untuk mencapai nilai dan makna yang paling tinggi dari kehidupan.

Dalam Injil hari ini, dikisahkan bahwa murid-murid Yohanes datang kepada Yesus bertanya: “Mengapa kami dan orang-orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Dengan tegas, Yesus menerangkan tujuan puasa ialah untuk menjalin relasi yang hangat dan mesra dengan Tuhan, bukan sekadar kewajiban atau disiplin sejenis diet untuk menjaga body. Persatuan para murid dengan Yesus dibahasakan secara simbolis dengan menggunakan bahasa mempelai laki-laki yang ada bersama sahabat-sahabatnya. Maka, puasa seyogianya adalah masa romantis bagi umat beriman karena berani berjuang melepaskan kenikmatan yang terbatas untuk menggapai kenikmatan yang luas dan misteri. Itulah kemesraan sejati Tuhan dengan umat-Nya, karena dalam puasa kita menyadari bahwa kita merindukan Dia yang bisa mengenyangkan rasa lapar dan haus batin kita. Selamat berjuang menunaikan ibadah puasa! Marilah kita berdoa: “Tuhan, Engkau sajalah kenikmatan kami”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply