Renungan

Mencari Kebenaran Ilahi

 138 total views,  2 views today

Selasa, 16 Februari 2021 : Kej 6:5-8;7:1-5.10, Mrk 8:14-21

Ada saatnya situasi memaksa kita untuk melakukan sesuatu walaupun bertentangan dengan hati nurani. Keputusan yang diambil itu didominasi oleh pengaruh dari luar. Saya tidak mau menghakimi orang yang bertindak seperti itu, karena saya pun pernah mengalaminya atau menjadi pelakunya. Renungan ini diusahakan agar para pembaca tidak merasa terhakimi, tetapi hendaknya merasa terbantu mengalami pencerahan menuju yang illahi. Kalau itu terjadi, dengan sendirinya manusia mampu menghakimi dirinya di hadapan Allah. Dengan demikian, kesadaran manusia semakin terasah untuk mencari kebenaran walaupun memang himpitan dan gejolak dari luar diri manusia begitu kuat untuk menumpulkan hati nurani.

Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus dengan amat keras menegur para murid-Nya. Yesus berkata: “Telah degilkah hatimu? Kalian mempunyai mata, tidakkah kalian melihat? Dan kalian mempunyai telinga, tidakkah kalian mendengar?” Sehubungan dengan itu, ada ungkapan nenek-moyang yang terwarisi sampai sekarang: “Madabu jarum tu na potpot, ndang diida mata, alai diida roha” Dalam bahasa Indonesia boleh diterjemahkan: Jatuh jarum ke tempat yang semak, tidak terlihat oleh mata, tetapi terlihat oleh hati. Ungkapan ini hendak menegaskan bahwa penglihatan hati jauh lebih dalam dan lebih tajam dari penglihatan mata. Kalaulah manusia memakai hati yang seperti itu untuk memandang dirinya dan memandang sekitarnya, manusia pasti mengalami pencerahan. Itu yang kurang dimiliki oleh para murid-Nya sehingga Yesus menegur mereka. Biarlah kita ikut juga ditegur Yesus seperti para murid itu, agar jelaslah bagi kita apa yang harus kita lihat, yakni apa yang Tuhan kehendaki. Marilah kita berdoa: “Tuhan, kami tahu apa kelemahan kami. Kami mau belajar lagi untuk melihat dan mendengar yang Engkau kehendaki”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply