Renungan

Memaknai Hari Sakit Sedunia

 245 total views,  4 views today

Kamis, 11 Feb 2021 : Hari Orang Sakit Sedunia, Kej 2:18-25, Mrk 7:24-30

Setiap orang bisa sakit dan setiap orang mampu memaknai penyakitnya. Tentu, tidak sama kemampuan orang dalam memaknai penyakitnya. Apalagi penyakit yang telah berlangsung sekian lama dan penyakit itu bukan hanya penyakit fisik, melainkan juga penyakit psikis serta penyakit rohani. Ada orang yang bisa langsung melihat penyakit sebagai bagian dari perjalanan iman, yang membuat seseorang semakin beriman. Ada yang melihatnya biasa-biasa saja dan menjalaninya tanpa khawatir dengan pandangan bahwa manusia memang bisa sakit. Namun, ada juga orang yang ketika mengalami sakit, merasa berontak, tidak mampu atau sulit menerima kenyataan itu. Beraneka macam tanggapan orang terhadap penyakit yang dialaminya. Hari ini Gereja kita mendoakan semua orang sakit dan juga mendoakan semua orang yang memberi pertolongan bagi orang sakit. Kemampuan merawat dan menolong orang sakit yang dimiliki oleh seseorang adalah karunia yang berasal dari Allah. Di dalam kemampuan itu kita temukan Allah yang penuh belas kasih dan penuh cinta kepada orang yang lemah dan yang membutuhkan perhatian.

Dalam Injil hari ini dikisahkan kepada kita tentang seorang perempuan Siro-Fenisia yang datang kepada Yesus memohon agar mengusir setan dari anaknya. Sekali lagi, penyakit dirasuki setan bukan hanya terjadi pada jaman ini. Jangan pula ditanya kepada saya bagaimana wujud dan rupa setan itu. Saya sendiri belum pernah berjumpa dan tak berharap berjumpa dengan setan. Namun, yang penting kita ketahui, kalau setan disebut dalam dunia Kitab Suci selalu merujuk pada gambaran dan tindakan yang merusak dan mengacaukan. Itu berlawanan dengan kehendak Allah. Yesus tidak langsung mengiyakan permohonan perempuan Siro-Fenisia itu. Saya merasa sangat tertarik mengikuti dialog Yesus dan perempuan itu. Yesus berkata: “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Sebutan anjing dipakai untuk perempuan itu karena berasal dari suku yang bukan Israel, yang sering dipandang nomor dua atau dikesampingkan dalam menerima berkat Tuhan. Tanpa merasa terhina, perempuan itu berkata: “Anjing di bawah meja pun makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Perempuan itu punya nyali besar dan prinsip yang sangat teguh bahwa Tuhan punya kuasa mengabulkan permohonannya. Dia tidak peduli dengan pandangan sekitar, entah cap apa pun dikenakan kepadanya atau keluarganya atau sukunya. Dan memang doanya terkabul. Ini bukan persoalan tawar-menawar antara Tuhan dengan kita mengenai doa-doa kita apakah dikabulkan atau tidak. Ini adalah gambaran orang beriman yang memiliki prinsip hidup bahwa Tuhan punya kuasa. Keyakinan seperti itulah yang membuat Gereja kita giat mendoakan semua orang sakit. Dengan prinsip itu, kita berusaha agar kita mengalami kuasa-Nya,khususnya orang-orang sakit. Caranya? Ya, datang kepada-Nya. Tentu, prinsip hidup seperti itu berbeda dengan sikap keras kepala yang malah asyik mencari kambing hitam dari setiap persoalan hidup. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami berusaha untuk mengalami kuasa-Mu”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply