Renungan

Suara Kebenaran

 75 total views,  3 views today

Jumat, 05 Februari 2021 : Ibr 13:1-8, Mrk 6:14-29

Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa di kedalaman diri manusia itu ada kursi tahta yang diduduki kebenaran. Tetapi bisa jadi kebenaran itu tidak berarti bagi seseorang. Penyebabnya banyak. Bisa jadi karena seseorang malah tak pernah melihat keindahan tahta kursi dan wibawa yang duduk di kursi itu. Sehingga, suaranya tidak pernah didengarkan. Barangkali yang lebih didengarkan adalah suara yang bukan berwibawa. Padahal dalam diri ada suara sungguh berwibawa. Suara yang berwibawa itu disumbat oleh kecondongan dan kecenderungan pada arogansi manusia untuk menutup-nutupi kerapuhannya.

Dalam Injil hari ini dikisahkan tentang pengenalan Herodes terhadap Yesus dan kemudian dikisahkan tentang kematian Yohanes. Kita tahu bahwa Yohanes dan Yesus berelasi sangat erat. Kehadiran Yohanes sebagai saksi Sang Kebenaran membuat Herodes gelisah. Herodes dikejar bayangannya sendiri karena apa yang dikatakan oleh Yohanes Pembaptis benar. Kritikan Yohanes Pembaptis terhadap Herodes yang mengambil isteri Filipus tidak pernah selesai. Herodes tahu bahwa Yohanes benar. Tetapi, kebenaran itu tidak kuat berdiri di kursi tahta hati Herodes karena ia condong dan cenderung pada pembelaan harga diri. Entah harga diri apa yang mau dibela kalau sudah hancur lebur seperti itu. Tetapi begitulah, kematian Yohanes tidak membuat selesai persoalan Herodes. Batin Herodes gelisah kembali mendengar Yesus yang adalah Sang Kebenaran. Kebenaran tidak akan pernah bisa ditumpulkan. Penipuan tidak bisa berlari lebih cepat dari kebenaran. Sebab, kebenaran itu dekat dan sangat dekat di dalam lubuk hati terdalam manusia. Kalau mau tahu, diamlah tiga menit dan lihatlah ke dalam. Marilah kita berdoa: “Tuhan, Suara-Mu sungguh dekat di dalam batin kami”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply