Renungan

Usaha Mengolah Diri

 79 total views,  2 views today

Rabu, 27 Jan 2021 : Ibr 10:11-18,  Mrk 4:1-20

Kalau agama dijadikan sebagai alat pemuas diri maka terjadilah tingkah laku suka-suka hati dari penganut agama itu. Entah itu memaksa orang untuk menganut agama tertentu dengan cara halus atau cara keras sama saja. Sebab, orang yang menganut agama seperti itu telah jatuh pada sikap semau gue yang ujung-ujungnya memaksa orang lain memuaskan egonya yang dibungkus dengan cara melabeli sikap dengan menyebut demi kesalehan atau pun kesolehan. Penganut agama seperti itu haus pengakuan dari orang lain. Ini bukan sekali saja terjadi di negara kita. Penyebabnya ialah kegagalan orang untuk menjalin relasi dengan yang illahi karena terlalu mengutamakan atribut-atribut duniawi yang membuat jurang di antara mayoritas-minoritas, kafir-non kafir, halal-haram. Dengan menjunjung tinggi atribut-atribut buatan manusia itu, goyanglah fondasi orang beriman karena menomorsatukan yang nomor dua, sementara yang nomor satu dan yang harus diutamakan dalam hidup beriman telah dibuat menjadi nomor sekian.

Dalam Injil hari ini, Yesus membentangkan perumpamaan kepada banyak orang. Ada seorang penabur yang menaburkan benih. Benih jatuh di beberapa tempat yang berbeda: pinggir jalan, tanah berbatu-batu, tanah semak duri dan ada tanah yang baik. Tentu, kalau benih itu jatuhnya di tanah yang baik, benih itu akan tumbuh dengan subur dan berbuah, hasilnya pun berlipat ganda. Ini adalah perumpamaan yang membantu kita agar paham bahwa setiap orang harus berusaha mengolah diri, menggemburkan tanah hati agar Sabda Tuhan yang ditaburkan dapat bertumbuh dan berbuah. Mengolah diri seperti mengolah tanah agar menjadi tanah yang baik bagi pertumbuhan benih Sabda Tuhan adalah usaha terus-menerus. Tidak mudah melakukan usaha itu di tengah kecemasan dan himpitan dunia saat ini. Kalau malas, jadinya kita akan mengulang lagi terus perilaku buruk yang memaksa orang lain memuaskan ego dengan membuat aturan-aturan yang justru membuat hidup menjadi sulit untuk berbuah. Saya selalu terkesan melihat pengolahan tanah yang sangat gersang di daerah Galilea menjadi tanah subur yang menumbuhkan benih dan hasilnya berlipat ganda. Pekerjaan mengolah tanah itu menginspirasi kita untuk mengolah tanah hati dan bukan justru memaksa orang. Marilah kita berdoa: “Tuhan, bantu kami menyuburkan hati kami agar Sabda-Mu bertumbuh dan berbuah dalam diri kami”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply