Renungan

Seruan Hati

 244 total views,  3 views today

Kamis, 14 Jan 2021 : Ibr 3:7-14, Mrk 1:40-45
Semakin akrab dengan seseorang pastinya akan semakin saling memahami. Tanpa mengumbar kata-kata terjadi saling pengenalan yang mendalam. Memang butuh pengakuan dengan ungkapan kata-kata, tetapi diam pun adalah bahasa yang kuat bagi orang yang saling mengenal dan dekat satu sama lain. Perkenalan tidak terjadi hanya dengan kata, sebab manusia punya kemampuan melihat, merasa dan mengalami selain berkata-kata. Relasi seperti itu bukan lagi berorientasi menguntungkan sepihak, melainkan pertemuan hati yang melahirkan kebahagiaan. Kemampuan untuk saling mengerti dan memahami apa yang dibutuhkan menjadikan kedua orang yang berelasi tetap gembira walau kisah sedih dan bahkan duka ada di jalan kehidupan. Ukuran kedekatan ialah kemampuan membaca hati. Di sanalah tertemukan kebutuhan dan keinginan untuk dipahami dan dicintai. Berbahagialah orang yang mendengarkan seruan hati untuk dicintai sekalipun kata-kata seperti itu tidak keluar dari mulut.
Dalam Injil hari ini dikisahkan pertemuan Yesus dengan seorang kusta. Sambil berlutut,  si kusta memohon kepada Yesus: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Kata-kata ini bernada apa ya?  Minta tolong atau apa? Kenapa si kusta nggak to the point aja bilang: “Yesus, please deh, sembuhkan aku dong atau, Yesus tolong tahirkanlah aku.” Ternyata, si kusta nggak ragu sedikit pun bahwa Yesus mampu menyembuhkannya. Tetapi, si Kusta tidak memaksa, ia tetap berpasrah dan ikut pada kemauan Tuhan. Kalau Tuhan mau ya syukur. Kerendahan hati adalah tanda keakraban dengan Tuhan. Tanpa merengek dan memaksa pun, Tuhan bekerja bagi kita. Tuhan tahu apa yang sungguh kita butuhkan. Namun, kita sering tergoda untuk memaksa Tuhan dengan aneka cara. Bahkan, menjadikan diri sebagai Tuhan yang berusaha untuk populer dengan aneka cara. Lihatlah orang yang hingga akhir-akhir ini tetap menjadi perguncingan orang banyak di dunia maya, entah karena kasula, entah karena menyebut diri pastor padahal bukan pastor, macam-macam deh. Dimana kerendahan hati?  Marilah kita berdoa: “Tuhan, apa yang Engkau mau dalam hidup kami?”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply