Renungan

Perjalanan Hidup Sebagai Rahmat Allah

 284 total views,  2 views today

Senin, 25 Jan 2021 :  Kis 22:3-16, Mrk 16:15-18

Setiap orang memiliki kisah perjalanan hidup yang unik. Waktu dan situasi yang tenang dapat kita sediakan secara khusus untuk melihat kisah itu. Di sana kita bisa melihat bahwa perjalanan hidup kita ternyata tidak selalu mulus. Ada saat-saat dimana kita merasa gersang, ibarat tanah yang sangat tandus, terasa hampa dan sulit melihat makna kehidupan ini. Tetapi, betapa gembiranya hati kita bila kita mampu melihat bahwa ada kekuatan yang memampukan kita untuk melintasi situasi-situasi sulit itu. Pengakuan bahwa ada rahmat yang membuat kita mampu melintasi masa dan situasi kelam kehidupan itu, dapat membuat kita semakin terpacu untuk terus membarui hidup. Dengan melihat perjalanan hidup, kita melihat kembali rahmat-rahmat yang membuat kita tidak hancur lebur ditelan oleh situasi kelam dan keterpurukan.

Hari ini Gereja semesta memestakan pertobatan Santo Paulus Rasul. Kisah pertobatan Paulus dikisahkan dalam bacaan pertama hari ini. Mengapa pertobatan Paulus kita pestakan? Karena pertobatan adalah rahmat Allah. Tanpa rahmat Allah, tidak mungkin orang melakukan pertobatan. Maka, pertobatan adalah pengakuan bahwa Allah menganugerahkan rahmat-Nya bagi diri kita agar kita senantiasa terarah kepada-Nya dan berada bersama Dia. Allah tidak pernah menginginkan kita jauh dari-Nya. Tetapi, kita sering digoda oleh kuasa-kuasa jahat agar jauh dari Tuhan. Pengalaman Paulus hendaknya menginspirasi kita bahwa Allah datang senantiasa mengetuk pintu hati kita agar kita tahu kepada siapa kita percaya. Pertobatan tidak hanya perlu bagi orang-orang penjahat kelas kakap. Setiap orang beriman diajak untuk senantiasa bertobat yang berarti melihat, mengalami dan mengakui bahwa rahmat Allah dianugerahkan dalam diri kita sehingga kita sanggup membarui diri kita. Dengan demikian, hidup kita menjadi kabar gembira bagi sesama. Marilah kita berdoa: “Tuhan, ajarlah kami melihat, mengakui dan mengalami rahmat-Mu yang membuat kami mampu membarui diri kami”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply