Renungan

Kepribadian Yang Otentik

 79 total views,  3 views today

Selasa, 12 Jan 2021 : Ibr 2:5-12, Mrk 1:21b-28
Beberapa hari ini banyak orang di media sosial ikut nimbrung ngobrol tentang seseorang yang bukan imam Gereja Katolik mengenakan sejenis kasula dalam acara pernikahan. Bagi Gereja Katolik, Kasula adalah pakaian liturgi yang dikenakan imam di atas alba dan stola pada waktu merayakan ekaristi. Warnanya disesuaikan dengan masa liturgi yang bersangkutan. Pengertian itulah yang membuat banyak orang masuk dalam perdebatan di dunia maya. Saya sendiri tidak memastikan yang dipakai orang itu adalah kasula walaupun sekilas kelihatan mirip kasula. Saya juga tidak tahu apa tujuan orang tersebut memakai itu. Bagi saya, ini sebuah keberuntungan sebagai aksi panggilan. Ternyata, banyak orang yang terobsesi untuk menjadi imam seperti saya. Bangga ah jadi imam. Yang bukan imam saja mau buanget pakai kasula walaupun memang masih harus dicek kebenarannya apakah itu benar kasula. Yang penting dan terutama diketahui ialah bahwa pakaian liturgi itu kaya makna simbolik, bukan sekadar hiasan buat gagah-gagahan untuk tampil.
Dalam Injil hari ini dikisahkan tentang Yesus mengajar di rumah ibadat di Kapernaum. Banyak orang takjub mendengar pengajaran-Nya karena Ia mengajar sebagai orang yang berkuasa. Di situ ada orang yang kerasukan roh jahat. Geli rasanya membaca Injil ini. Di rumah ibadat ternyata ada juga orang yang kerasukan roh jahat? Ya ada dong, termasuk yang itu tadi, yang gagah-gagahan mengutamakan penampilan cari popularitas. Roh-roh jahat memang pintar mengelabui. Roh jahat kenal amat dengan Tuhan. Parahnya, pengenalannya terhadap Tuhan nggak ngefek buat hidupnya. Bolehlah orang buat ini dan itu sebagai penampilan, tapi kalau itu justru mengacaukan banyak orang bisa jadi memang orang macam itu sedang diperalat oleh roh jahat. Yesus dengan tegas menghardik roh jahat: “Diam, keluarlah daripadanya.” Dibutuhkan ketegasan dan keteguhan prinsip dalam bersikap agar otentisitas dan kesejatian diri terbentuk. Orang seperti itulah yang mengalami bahwa pengajaran Yesus penuh kuasa. Tanpa itu, pada jaman ini  akan selalu muncul pengikut palsu yang hanya menempelkan diri ke rumah Tuhan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami mengalami kuasa-Mu untuk membangun kepribadian kami yang otentik”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply