Renungan

Fokus Mewartakan Nama Allah

 259 total views,  2 views today

Kamis, 21 Jan 2021
Ibr 7:25-8:6
Mrk 3:7-12

Mengakui kemampuan orang lain merupakan keutamaan seseorang. Sebab, tidak semua orang mampu melihat dan mengakui kemampuan orang lain. Kemarin telah kita dalami mengenai ketidakmampuan orang-orang Farisi melihat dan mengakui kemampuan Yesus sebagai pembela kehidupan. Namun, ada juga orang yang tampaknya memuji dan mengagumi orang lain dengan tujuan agar ia mendapat pengakuan pula. Pujian dari orang seperti itu tidak berlangsung lama. Sebab, ketika ia telah mendapatkan yang dia butuhkan, bisa saja ia berubah menjadi lawan. Kekaguman yang dulu keluar dari mulut manisnya bisa jadi berubah kemudian menjadi caci-maki. Itu terjadi karena orientasi atau fokusnya adalah untuk memuaskan kebutuhannya. Saat kebutuhannya tidak terpenuhi, ambyarlah rasanya.

Dalam Injil hari ini dikisahkan seputar pelayanan Yesus yang penuh kuasa dan wibawa untuk menyembuhkan banyak orang. Makin banyak orang yang tertarik datang kepada Yesus. Orang yang viral memang akan cepat diidolakan seperti masa kini. Termasuk juga roh jahat ternyata memperhatikan apa yang dibuat oleh Yesus dan roh-roh jahat itu mengenal Yesus dengan berteriak: “Engkaulah Anak Allah!” Tetapi dengan keras Yesus melarang mereka memberitahukan siapa Dia. Koq Yesus melarang roh-roh jahat untuk mewartakan nama Yesus? Ya! Karena, tidak mungkin roh jahat mewartakan nama Yesus. Tanpa pengakuan dari mulut manusia apalagi roh jahat, identitas jati diri Yesus tidak pernah kabur sebagai Anak Allah. Karena itu, Yesus tidak perlu dibela. Nggak usah meribetkan diri untuk berteriak-teriak menyebut nama Yesus di jalan raya atau pamer dengan nama itu entah dimana pun. Kalau itu terjadi, bisa jadi bukan lagi pengakuan terhadap kuasa Yesus yang mau ditunjukkan melainkan keinginan untuk dihormati dan diakui sebagai pengikut Tuhan. Roh-roh jahat doyan dengan sikap yang seperti itu. Bagi orang beriman, pengalaman akan kuasa dan wibawa Yesus lebih kuat berbicara daripada teriakan mulut sekuat apa pun. Pengalaman itulah yang membuat orang beriman tunduk dan taat pada Allah. Sementara itu, roh-roh jahat tidak pernah mengalami kuasa Allah sekalipun berteriak keras mewartakan nama Allah. Mereka cuma butuh pengakuan dan sulit tunduk serta taat kepada Allah. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami selalu bersandar pada kuasa-Mu sehingga kamin semakin taat pula kepada-Mu”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply