Renungan

Proses Pertobatan

 266 total views,  2 views today

Selasa, 15 Des 2020 : Zef 3:1-2.9-13, Mat 21:28-32
Perjalanan rohani harus menyatu dengan pengalaman manusiawi yang nyata dalam hidup sehari-hari. Bila terpisah, itulah yang mengakibatkan kekeliruan dalam beriman. Sebenarnya kekeliruan itu bisa diminimalisir dan memang itulah perjuangan orang beriman. Tujuannya, agar iman senantiasa berdaya membarui diri. Satu kata indah yang tidak boleh kita lupakan sebagai orang beriman, yakni pertobatan. Tobat bukan sekadar menyesal, melainkan niat untuk ikut serta dalam hidup Yesus yang terwujud dalam tindakan nyata. Karena itu, Sakramen Tobat menjadi rahmat bagi orang beriman karena orang yang merayakannya bertumbuh sebagi orang beriman. Setiap kali kita merayakan Sakramen Tobat, kita merayakan kenaikan kelas sebagai kemajuan murid Kristus.
Dalam Injil hari ini Yesus menegaskan ajaran-Nya kepada imam-imam kepala dan pemuka-pemuka bangsa Yahudi. Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan pelacur-pelacur akan mendahului kalian masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Pernyataan Yesus yang amat ekstrim ini mau menegaskan bahwa orang yang amat berdosa pun mendapat kesempatan berbahagia dengan Allah. Karena itu, setiap orang hendaknya berani keluar dari dirinya, dari kemapanan dan kenyamanan nikmat yang justru menutup suara hati untuk mengalami pembaruan sesuai kehendak Allah. Dari Kitab Suci kita tahu kisah-kisah orang berdosa yang menjadi pengikut Tuhan, makan bersama dengan Tuhan. Hendaknya lukisan kisah Kitab Suci itu kita baca sebagai kisah yang berproses, bukan kisah yang instan sehingga kita bisa juga ikut dalam proses itu dan menjauhkan diri dari tobat instan. Kita semua memang telah berdosa. Tetapi,  Allah memberi kesempatan bagi kita untuk mau membarui diri. Maka, niat kita untuk bertobat hendaknya lebih kuat dari keinginan untuk berdosa. Sehingga, realita hidup kita tidak terpisah dari penghayatan iman kita. Marilah kita berdoa: “Tuhan berilah kami kekuatan untuk memaknai kesempatan yang Kau berikan untuk membarui diri.”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply