Mp3

Kelahiran Yohanes

 292 total views,  2 views today

Sabtu, 19 Des 2020 : Hak 13:2-7.24-25a, Luk 1:5-25
Kemarin saya mengikuti diskusi di ringan nonformal tentang money politic. Supaya tidak lebar kemana-mana, pengertian money politic adalah cara yang digunakan oleh oknum tertentu untuk meraih kekuasaan atau kursi jabatan tertentu dengan mengeluarkan sejumlah uang. Bukan rahasia lagi, bahwa itu lazim di negara tercinta ini. Penyebabnya, bermacam-macam. Mulai dari sistem, kultur sosial, watak masyarakat bangsa dan sebagainya. Sambil mengelus dada, kita berharap proses pendidikan demokrasi di negara kita tidak berhenti, karena jalan memang masih panjang, kesadaran perlu diasah. Nah, kalau memang money politic masih lazim, tentu masyarakat yang masih punya suara hati pasti tahu batas kewajaran. Yang dicemaskan oleh senior saya yang ikut nimbrung dalam diskusi money politic tadi ialah: jangan-jangan karena uang yang telah melewati batas kewajaran itu, suara hati menjadi bisu atau hati nurani menjadi buta. Orang yang sudah tertutup hatinya tidak mampu lagi bertindak secara benar, bahkan tidak mampu lagi menakar kesalahan: yang mana kesalahan yang masih bisa ditolerir dan yang mana kesalahan yang sudah kelewatan batas. Untuk menakar itu, peran utama suara hati sangat dibutuhkan. Tetapi, kalau suara hati sudah buta tertimbun uang, tidak ada lagi yang akan menjadi penimbang, entah baik entah buruk, entah wajar atau sudah kelewat batas. Kalau suara hati sudah tak mampu diandalkan, akibatnya adalah kebisuan dalam bertindak.
Dalam Injil hari ini dikisahkan kelahiran Yohanes Pembaptis. Kita tahu dari Kitab Suci, Yohanes Pembaptis adalah orang yang unik dan berperan serta dalam karya penyelamatan. Saat Malaikat menyampaikan pesan tentang kabar bahwa Elisabet, isteri Zakharia akan mengandung anak laki-laki, Zakharia tidak percaya. Alasan Zakharia: Elisabet sudah lansia dan disebut mandul. Apa yang membuat Zakharia tidak percaya?  Ia lebih mudah meyakini apa yang dia pikirkan daripada apa yang dibisikkan oleh Malaikat. Kebisuan Zakharia disebabkan ketidakmampuan mendengar dan meyakini suara Allah. Bagi kita umat beriman, Allah senantiasa bersuara ke dalam lubuk hati kita terdalam. Bisa jadi kita akan bisu kalau kita tidak mendengar dan tidak meyakini suara Allah. Kebisuan yang bisa timbul adalah ketidakmampuan menimbang batasan antara wajar dan tidak wajar, antara benar dan salah, dan berbagai pertimbangan lainnya. Marilah kita berdoa: “Tuhan, terangilah kegelapan hati kami”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply