Renungan

Profesi Mengandung Panggilan

 94 total views,  2 views today

Senin, 30 Nop 2020 : Pesta Santo Andreas Rasul, Rom 10:9-18, Mat 4:18-22
Saya yakin bahwa seseorang yang maju untuk mewujudkan misi tertentu, pasti berusaha terlebih dahulu mengetahui siapa kawannya alias yang pro kepadanya. Maka, kalau mengetahui bahwa kawannya masih sedikit, ia akan berusaha memperbanyak kawan. Sebab, saya yakin seyakin-yakinnya tidak ada orang yang berusaha untuk menambah jumlah musuhnya. Yang ada ialah, orang berusaha memperkuat barisan agar lebih mudah mensosialisasikan dan mewujudkan kebaikan sebagai produk musyawarah orang-orang yang berasal dari aneka latar belakang. Kemarin setelah misa, saya pergi ke sebuah tempat yang agak ramai (tapi saya nggak lupa pakai masker dan jaga jarak) ditemani oleh seorang sopir. Bukan sopir pribadi, tetapi karena pekerjaannya memang sopir. Saya menyaksikan ada seseorang yang setiap kali beberapa menit menarik bajunya dari pinggangnya untuk (sengaja?) memerlihatkan bahwa ada senjata di pinggangnya. Spontan, saya bertanya ke sopir di sampingku: “Dia mau cari lawan atau cari kawan?” Tak pernah saya ragukan bahwa perlengkapan senjata apa pun oleh profesi apa pun bukan untuk mencari lawan, melainkan memastikan bahwa sekitar adalah kawan.  Untuk memastikan maka perlu antisipasi. Muak rasanya kalau sikap arogan masih kental.
Dalam Injil hari ini yang bertepatan pada Pesta Santo Andreas Rasul, Yesus berkata: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Itu dikatakan Yesus kepada Simon dan saudaranya, Andreas. Pekerjaan mereka sehari-hari ialah mencari ikan. Panggilan Yesus kepada dua orang bersaudara itu adalah panggilan bagi kita entah apa pun profesi kita agar tidak lupa bahwa di dalam setiap profesi kita terkandung panggilan untuk menguatkan tangan dan memperluas jala agar semakin banyak orang mengalami cara pandang baru yang semakin terarah pada yang illahi. Terarah pada yang illahi itu bisa diwujudkan dengan aneka cara, entah memeluk agama yang ini atau memeluk agama yang itu. Dengan demikian dua bersaudara itu, Simon dan Andreas tetap hadir pada jaman ini melalui orang-orang beriman yang memiliki sikap terbuka untuk meluaskan jala agar orang berada dalam kebersamaan dengan Allah. Tanpa itu, senjata akan menjadi alat pencari musuh. Kemarin kulihat yang gitu lho! Marilah kita berdoa: “Tuhan, jadikanlah kami menjadi jala-Mu yang membantu sesama untuk berada dalam Dikau”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply