Renungan

Persembahan Sejati

 49 total views,  4 views today

Senin, 23 Nop 2020 : Why 14:1-3.4b-5, Luk 21:1-4
Hati siapa yang tidak sedih menyaksikan kepergian tiga orang anak sekaligus bersama kakeknya dalam peristiwa naas lalu di Jl. Asahan, Pematangsiantar? Air mata rasanya tak cukup lagi mengungkapkan perasaan sedih bila kita bisa menyelami hati sang ibu, ayah dan seluruh keluarga dan kerabat korban. Tak berselang lama, dunia media sosial menumpahkan kesedihannya saat menyaksikan ratapan kerabat dan keluarga menyambut jenazah Pendeta Demak Simanjuntak, seorang pendeta HKBP.  Melepaskan yang sungguh dicintai dan dihargai amat sulit. Tetapi, begitulah misteri hidup ini. Ada paradoksal, tetapi itulah kebenaran. Justru karena kita hargailah dan amat kita cintai dituntut pula kemampuan untuk menyerahkan. Hanya kalau kita menggantungkan hidup sepenuhnya pada kuasa Yang Illahi dan bukan pada yang fana ini sikap berserah dan berpasrah muncul. Orang yang menggantungkan dirinya pada Allah mampu menyerahkankan diri padaNya dan juga menyerahkan siapa pun dan apa pun yang amat dicintainya dan amat dihargainya. Ibu dari anak-anak korban kecelakaan itu berkata: “Semoga anak-anak ini menjadi malaikat pendoa di surga.” Kata-kata itu saya yakin datang dari hati yang berserah pada Allah. Saya yakin Pendeta Demak juga mengalami buah iman dan buah pewartaannya selama ini, yakni pahala kekal.
Dalam Injil hari ini dikisahkan tentang sikap Yesus terhadap janda miskin yang memberikan persembahan ke dalam peti persembahan. Hendaknya pikiran dan pemahaman kita tidak sempit pada materi persembahan itu. Kita mendalami mengapa Yesus memuji janda miskin itu, yakni karena janda miskin itu memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya. Seseorang bisa memberikan segalanya, mengikhlaskan segalanya dengan tulus karena menggantungkan hidup pada Allah. Itulah persembahan. Persembahan adalah ungkapan seseorang yang menggantungkan hidupnya pada Allah. Persembahan bukan hanya pemberian-pemberian materi, tetapi segala sesuatu yang menjadi wujud penyerahan diri pada Allah. Keterbukaan pada sesama untuk mendengarkan keluh kesahnya, ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain sebagai latihan kepekaan juga adalah pemberian-pemberian umat beriman saat ini. Dengan demikian, keterbatasan hidup kita tidak menjadi alasan lagi bagi kita untuk tidak mampu memberi persembahan kepada Allah dalam hidup bersama. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami tidak menutup apa pun bagi diri kami sendiri melainkan menggantungkan hidup kami pada-Mu”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply