Renungan

Orientasi Hidup

 196 total views,  2 views today

Jumat, 13 Nop 2020 : 2 Yoh 1:4-9, Luk 17:26-37
Hingga mendekati penghujung tahun ini, situasi kita masih tetap dibayang-bayangi aneka perasaan karena Pandemi Covid-19. Kita tidak tahu sampai kapan akan begini walaupun titik terang dan sejumlah informasi yang memancarkan secercah harapan telah muncul berkaitan dengan proses pembuatan vaksin yang sudah pada tahap ketiga. Rutinitas harus diubah. Sikap dan perilaku harus disesuaikan. Perubahan itu tidak mudah, apalagi efek baru muncul, diantaranya kesehatan mental tergoncang. Goncangan itu semakin kuat kalau pandangan dan ingatan pada masa lalu membuat langkah kita tidak kreatif menuju suasana dan kebiasaan baru. Orang bisa saja berkata tentang sebelum pandemi yang bisa ngumpul seenaknya membuat acara pesta tanpa protokol kesehatan seperti sekarang ini, bisa bepergian kemana-mana dengan leluasa tanpa mencemaskan dampak virus, bisa mendapat untung sekian dari usaha bisnis karena semuanya normal. Dan masih banyak lagi khayalan-khayalan yang menumpuk dan bayangan tentang indahnya masa lalu sebelum pandemi ini.
Dalam Injil hari ini Yesus menegaskan kepada para murid-Nya bahwa orientasi dan tujuan umat beriman bukanlah mau berpuas diri pada masa lalu dan masa sekarang, melainkan semakin termotivasi untuk menatap hari esok dengan segala potensi yang ada dalam dirinya sendiri. Harapan itu menjadi subur dan kuat kalau langkah umat beriman tidak dihalangi oleh kenikmatan dan khayalan akan indahnya masa lalu. Umat beriman diajak oleh Tuhan sendiri agar mau menyerahkan diri untuk memperoleh kehidupan. Yesus berkata: “Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya,  dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya. Menyerahkan diri berarti mengikhlaskan diri untuk mengalami kenyataan saat ini. Dengan keikhlasan itu, ada proses yang kreatif untuk menjalani kehidupan yang baru. Arah dan orientasi yang diajarkan Tuhan kepada kita hendaknya membuat kita tidak putus asa. Sebab, Tuhan sendiri menyerahkan diri bagi kita agar kita tidak tersesat, tetapi dengan daya illahi-Nya kita menemukan titik-titik terang di saat situasi gelap ini untuk berjalan bersama Dia. Marilah kita berdoa: “Tuhan, kami bersyukur karena Engkau menyerahkan Diri-Mu bagi kami, semoga kami mampu mengikhlaskan diri kami mengikuti Engkau dalam aneka situasi hidup kami”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply