Renungan

Materi Bukan Tujuan

 207 total views,  2 views today

Sabtu, 07 Nop 2020 : Flp 4:10-19, Luk 16:9-15
Ada banyak cara untuk menunjukkan kedekatan. Wujudnya bisa berupa sapaan, pemberian dan lebih mulia lagi adalah doa. Yang terakhir ini, yakni tentang doa, bukanlah sekadar kata-kata santun sesaat. Misalnya, ketika berjumpa dengan seorang sahabat, spontan berkata: “Doakan saya ya!” Sang sahabat berkata: “Oh iya, akan saya doakan”. Sampai di situ selesai. Ha ha ha. Doanya dimana?  Nggak tahu deh. Bukan sekadar begitu maksud saya untuk mengatakan bahwa doa adalah wujud kedekatan. Mendoakan berarti adanya kontak batin yang kemudian terarah pada sang illahi sehingga banyak kemungkinan positif yang terbuka dan pelan-pelan menjadi kenyataan. Nah, doa menjadi wujud kedekatan karena dari ketidaksempurnaan manusiawi ada harapan bahwa Tuhan menyempurnakan. Sulit amatlah memang membuat tanda kedekatan kalau memang tidak ada kontak. Kontak satu sama lain yang tidak selalu mudah kelihatan, dan sulit kelihatan karena ada pada ranah batin adalah khas Kristiani. Itu terjadi kalau seorang memiliki keterbukaan dan kepedulian dengan yang lain.
Injil hari ini menjadi penegasan terhadap Injil yang kemarin. Kemarin sudah mulai dibuka topik yang mau didalami, yakni mengutamakan yang utama. Nah, Injil hari ini menegaskan tentang apa langkah yang harus diambil oleh orang yang mengutamakan hal yang utama. Orang yang mengutamakan hal yang utama adalah orang yang tidak terjerat materi, termasuk wujud-wujud lahiriah lainnya. Yang menjadi orientasinya ialah pemaknaan di balik itu semua, sehingga muncullah kekaguman pada yang illahi. Bukan lagi pada batasan akal dan rasa manusiawi saja, melainkan mengarahkannya pada yang dikehendak Allah. Maka, materi bukan tujuan. Materi dan wujud-wujudnya hendaknya menjadi sarana kita untuk membuat kita semakin terarah pada yang illahi. Hanya orang yang terarah pada yang illahi mampu menjalin relasi yang baik dengan sesama. Dengan demikian, pemberian berwujud apa pun akan menjadi vitamin batin karena bersumber dari batin yang intim dengan Tuhan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami kagum pada Cinta-Mu dan kami pun mampu saling mengagumi karena dalam diri kami Engkau tanamkan kemampuan untuk mencintai”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply