Renungan

Ketaatan Maria

 46 total views,  2 views today

Sabtu, 21 Nop 2020 : Peringatan Wajib St. Maria dipersembahkan kepada Allah, Why 11:4-12, Luk 20:27-40
Ternyata sejak jaman dulu pertanyaan tentang kebangkitan dan hidup akhirat selalu muncul dan menggemaskan. Menggemaskan karena orang akan tidak menerima jawaban ataupun penjelasan sempurna mengenai pertanyaan tersebut walaupun selalu dan terus-menerus dipertanyakan. Kalau mau jawaban sempurna, ya langsung aja sih praktek. Tinggalkan dunia ini dan masuk dunia sana. Di situlah baru tertemukan jawaban yang sesungguhnya. Tetapi, betapa seringlah terjadi konflik atau pun kekacauan justru karena orang memperebutkan jawaban atau penjelasan yang belum sempurna serta mengklaimnya sudah sempurna. Klaim kuat seperti itulah yang membuat dunia kurang berpengharapan pada dunia kelak setelah dunia saat ini.
Dalam Injil hari ini dipaparkan percakapan orang-orang Saduki dengan Yesus. Orang-orang Saduki adalah kelompok tertentu dari Yahudi yang tidak mengakui adanya kebangkitan. Mereka mapan dengan pemikiran hidup di dunia ini dan mengakui bahwa segala yang terjadi bagi hidup hanya ada di dunia ini. Pengalaman nikmat dan tidak nikmat hanya terjadi di dunia ini. Ganjaran sesuai perbuatan terjadi di dunia ini. Tidak ada lagi hidup setelah hidup di dunia ini. Begitulah pemikiran mereka. Terhadap pemikiran itu, Yesus berkata: “Tentang bangkitnya orang-orang mati, Musa telah memberitahukannya dalam nas tentang semak duri, di mana Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, karena di hadapan Dia semua orang hidup.” Penegasan Yesus ini bukan mau melawan hukum biologis atau mau mengajarkan bahwa hidup manusia itu sekadar hidup daur ulang, melainkan untuk meyakinkan orang beriman bahwa hidup manusia berharga. Hidup manusia berharga karena diciptakan oleh Allah yang senantiasa hidup dan menghidupkan. Seseorang disebut hidup bukan hanya karena bernafas atau jantungnya masih berdetak. Hidup seperti itu justru mendapat kepenuhannya kalau dalam diri orang itu kuat keyakinan bahwa Allah punya banyak cara dan rancangan untuk menunjukkan kuasa-Nya agar setiap orang mengalami kuasa itu. Saat orang mengalami kuasa Tuhan yang Mahakuasa, saat itu pulalah seseorang disebut hidup. Keyakinan pada Tuhan yang menghidupkan adalah kekuatan orang beriman untuk senantiasa berpasrah pada Allah yang hidup dan berkuasa seperti Maria yang selalu taat pada Bapa. Ketaatan Maria adalah persembahannya yang amat harum kepada Allah. Semoga persembahan Maria menjadi persembahan kita juga karena kita selalu berpasrah pada Tuhan yang berkuasa atas diri kita dan sesama kita. Kita bukanlah penguasa hidup ini maka taatlah pada Dia yang menciptakan kita. Marilah kita berdoa: “Tuhan, Engkau Mahakuasa, semoga kami tidak sok berkuasa atas hidup kami dan sesama kami melainkan menghargai kehidupan serta rela berbagi kehidupan dengan sesama kami”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply