Renungan

Kebutuhan Utama

 272 total views,  2 views today

Jumat, 06 Nop 2020 : Flp 3:17-4:1, Luk 16:1-8
Seberapa sering hidup kita mengalami kesulitan karena tidak ada uang atau materi? Dan, seberapa sering hidup manusia menjadi runyam karena uang atau materi? Kedua pertanyaan ini akan selalu ada selagi manusia hidup di dunia ini. Tetapi, sejatinya pertanyaan itu bisa kita lintasi kalau pemikiran kita berorientasi untuk mengutamakan yang utama. Namun, kalau  pemikiran tertuju untuk mengutamakan harta, kebahagiaan juga hendak dibangun dengan memiliki harta sebanyak mungkin. Itu jugalah sebagai usaha untuk meminimalisir penderitaan dan bahkan menghapuskan penderitaan. Namun, ternyata ada juga yang sudah memiliki banyak harta pun justru berhadapan dengan kesulitan baru. Ah, susah memang! Nggak punya harta, hidup terasa sulit. Punya harta, hidup tidak selalu tenang juga.
Dalam Injil hari ini, dikisahkan bahwa Yesus mengajar para murid-Nya dengan menggunakan perumpamaan. Ada seorang kaya yang mempunyai seorang bendahara. Bendahara itu dituduh tidak jujur karena menghamburkan milik si kaya. Bendahara itu akan dipecat dari jabatannya. Mengetahui itu, si Bendahara menjalin relasi dengan orang yang berhutang kepada si kaya itu. Orang-orang yang berhutang kepada si kaya itu, justru diberi lagi surat hutang baru, bukan dipaksa untuk segera melunaskan utangnya dan tidak ada rencana si Bendahara untuk menggelapkan yang diterimanya dari orang-orang yang berhutang.  Tujuannya, supaya ada orang menampung dia kalau dipecat dari jabatannya. Jelaslah, si Bendahara mengutamakan kasih persaudaraan sebagai kebutuhannya daripada mencari cara lagi mau menambah harta untuk mengisi pundi-pundinya sebagai bekal kemudian hari. Baginya, bekal yang utama dan pertama yang harus dikumpulkan adalah kasih yang berwujud kepedulian dan belarasa. Sebab, apa gunanya beroleh banyak harta di dunia ini kalau tidak ada orang yang peduli?  Lebih bergunalah manusia daripada harta kekayaan. Karena pemikiran itulah bendahara itu dipuji. Ia dapat keluar dari kesulitannya dengan memiliki cara pandang baru, yakni: menjadikan persaudaraan dan belarasa sosial sebagai kebutuhan yang utama dan yang pertama. Harta perlu, tetapi bukan tujuan hidup. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami mengutamakan yang utama sebagai putera-puteri-Mu agar kami semakin bersaudara dan Engkau adalah Bapa kami”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply