Renungan

Denominasi

 193 total views,  2 views today

Jumat, 20 Nop 2020 : Why 10:8-11, Luk 19:45-48
Ketika berada di suatu kota, saya singgah pada salah satu bangunan gereja yang tidak jauh dari keramaian. Bahkan, menurutku bangunan gereja itu terletak amat dekat dengan jalan raya yang bising karena suara kendaraan yang lalu-lalang. Namun, dalam situasi seperti itu, saya perhatikan justru banyak orang yang datang ke gereja tersebut. Orang-orang yang baru pulang bekerja singgah di gereja itu untuk berdoa, meditasi, adorasi serta mengikuti Perayaan Ekaristi setiap sore hari. Kehadiran itu menjadi tanda yang sangat jelas bahwa banyak orang ingin berdoa. Banyak orang merasa bahwa berdoa adalah kebutuhan pribadi. Karena kebutuhan pribadi, maka setiap pribadi mampu mengatur waktu agar mengalami perjumpaan yang hangat dengan Tuhan.  Mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi dalam keheningan merupakan kebutuhan. Di tengah suasana hiruk-pikuk dunia saat ini, ternyata rumah doa amat dibutuhkan manusia.
Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus tiba di Yerusalem dan masuk ke Bait Allah dan mengusir semua pedagang di situ. Ia berkata: “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kalian telah menjadikannya sarang penyamun.” Hendaknya tidak kita persempit arti kata pedagang hanya menunjuk pada orang yang mengadakan kegiatan jual-beli barang di sekitar Bait Allah. Itu memang ada. Sebab, untuk keperluan persembahan di Bait Allah, misalnya: burung atau ternak, sangatlah merepotkan bila dibawa dari tempat jauh. Jadi, ya pastilah orang-orang yang dekat ke Bait Allah di situ menjual bahan-bahan yang perlu untuk peribadatan di Bait Allah. Syukurlah kalau itu juga bisa sebagai mata pencaharian hidup sehari-hari. Orang yang datang dari tempat jauh dapat membeli bahan-bahan persembahan yang dijual di sekitar Bait Allah untuk digunakan sebagai keperluan peribadatan. Tetapi, harus disadari bahwa yang utama dalam peribadatan itu adalah hati yang tertambat kepada-Nya. Selebihnya, persembahan materi apa pun, itu adalah sarana, alat bantu agar seseorang semakin terhubung dengan yang illahi. Yang utama adalah relasi dengan Tuhan yang membuat seseorang terdorong untuk senantiasa melakukan pembaruan batin sesuai kehendak Tuhan. Namun, seringlah terjadi sebaliknya. Inilah wajah penggoda semangat doa kita pada jaman ini, yakni tampilan-tampilan lahiriah yang mencolok sering menipu kita. Manusia menjadi hanyut dan tenggelam pada penampilah lahiriah, tata aturan dan juga membuat ritus menjadi kering. Karena itu semua, terjadilah dominasi harga diri yang didasarkan pada penampilan lahiriah dan juga pada kuantitas kelompok atau denominasi. Yang tampil lebih wah dan yang merasa mayoritas sangat yakin sudah sangat dekat dengan Allah. Lebih jauh lagi, umat beriman menjadi massa yang dipakai untuk mengklaim aset Tuhan dan ideologi pun bisa dibeli serta sebagai gantinya dijuallah barang rongsokan yang menimbukkan cekcok dan konflik. Itulah pedagang yang sungguh diusir oleh Yesus dari Bait Allah. Sebab, dalam diri orang-orang seperti itu sesungguhnya bukanlah Tuhan yang Mahakuasa, melainkan mereka sendirilah yang berkuasa sementara Tuhan diperalat untuk menjual barang dagangannya. Namanya juga menjadi penyamun. Orang beriman harus hati-hati mengenali dan menjauhi diri dari wujud-wujud perilaku seperti itu pada jaman ini. Marilah kita berdoa: “Tuhan, ajari kami berelasi dekat dengan Dikau agar kami tidak mencederai sesama kami”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply