Renungan

Cinta Memperbaharui Diri

 113 total views,  2 views today

Kamis, 05 Nop 2020 : Flp 3:3-8a, Luk 15:1-10
Sering sekali kalau saya ngobrol tentang cinta dengan orang muda, mereka akan spontan bertanya: “Apakah pastor pernah jatuh cinta?” Saya malah balik bertanya: “Masih kurangkah buktinya?” Kalau pertanyaan dibalas dengan pertanyaan itu berarti jawaban sebenarnya sudah ada.  Tetapi, orang sering malas berpikir dan diam sejenak untuk memastikan bahwa jawaban yang sebenarnya sudah tampak terang-benderang. Hanya orang yang jatuh cinta boleh melakukan dan memilih yang di luar nalar manusia, termasuk untuk menjadi pastor alias jomblo permanen. Bolehlah tersenyum pembaca renungan ini karena tema-tema renungan harian selama pekan ini adalah tentang cinta. Kemarin tentang cinta, bahkan cinta gila. Gilanya dimana?  Karena saking cintanya, seseorang harus berani melepaskan segala miliknya dan mengikuti Tuhan. Maksudnya, berani melepaskan agar mampu mencintai. Halah, teoritis pun puitis buanget. Nggak apa-apa!
Dalam Injil hari ini dikisahkan perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus. Perumpamaan ini untuk melukiskan sukacita yang begitu besar di sorga karena bertobatnya satu orang. Seseorang mempunyai seratus ekor domba lalu seekor di antaranya hilang. Pertanyaan-Nya: “Tidakkah seseorang itu meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?” Itu ditanyakan Yesus terhadap orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang bersungut-sungut karena para pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang untuk mendengarkan Yesus. Bagi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, dengan menerima orang berdosa berarti Yesus ikut tercemar juga. Padahal, siapakah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat?  Bukankah dalam kitab mereka tertemukan juga hukum cinta kasih? Tanpa cinta, tak mungkinlah seseorang itu meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor itu. Karena satu ekor, harus meninggalkan sembilan puluh sembilan. Ya!  Itulah cinta. Orientasinya bukan untung rugi. Tetapi, begitulah memang ironi kehidupan ini. Cinta disebut cinta kalau menguntungkan. Kalau bukan keuntungan, cinta dipahami bukan lagi cinta. Karena pemikiran seperti itulah, orang sering mempertanyakan apakah  pastor Katolik itu pernah jatuh cinta atau  tidak.  Apa boleh buat, cinta dipahami sekadar keinginan yang sarat dengan untung rugi. Paulus dalam bacaan pertama hari ini sangat jelas menegaskan bahwa cinta kepada Tuhan melampaui pemikiran untung rugi: “Segala sesuatu kuanggap rugi karena aku telah berkenalan dengan Kristus Yesus, Tuhanku, sebab hal itu lebih mulia dari segala-galanya.” Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga Cinta-Mu senantiasa memanggil kami untuk bertobat membarui diri”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply