Mp3

Bersama Memuliakan Tuhan

 280 total views,  5 views today

Rabu, 11 Nop 2020
Peringatan Wajib St. Martinus Tours
Tit 3:1-7
Luk 17:11-19

Apakah pada masa Pandemi Covid-19 ini masih doyan orang membuat pembeda-bedaan? Dan sejauh mana pembeda-bedaan itu mencederai kebersamaan kita yang menuduh bahwa Agama yang ini lebih begini daripada agama yang itu. Suku yang anu lebih begini daripada suku yang itu. Bangsa yang sono lebih anu daripada bangsa yang sini. Parahnya, kelompok tertentu sampai pada kesimpulan meerasa lebih baik dari yang lain. Bila pemikiran itu masih membelenggu kita, mungkin pesan Pandemi Covid-19 tetaplah hanya ratapan dan tangisan. Padahal, suara-suara kenabian pada saat ini mengajak kita untuk membangun kepedulian bersama, kita semua adalah satu keluarga di bumi. Kita bersatu dalam penderitaan, tetapi juga kita bersatu dalam pengharapan. Dalam bingkai pemikiran itulah kita bisa memaknai kebersamaan kita. Segala identitas apa pun bukan lagi penjara pengkotak-kotakan, melainkan identitas yang mewarnai kebersamaan kita. Namanya menjadi keunikan. Sehingga, Pandemi Covid-19 memancarkan harapan dan senyuman karena kita bergandengan tangan.

Dalam Injil hari ini dikisahkan sepuluh orang kusta yang sembuh. Menurut senior saya, angka sepuluh ini adalah angka yang menunjuk totalitas. Semua manusia mengalami keselamatan dalam Allah. Maka, pesan tentang kebersamaan menjadi sangat kuat dalam perikop injil ini. Pandemi Covid-19 ini yang kita hadapi saat ini bukanlah penderitaan satu orang, melainkan penderitaan dunia. Dalam situasi derita itu, kita mendapat pelajaran baru dan cara pandung baru untuk memperbaiki kualitas kebersamaan kita. Sepuluh orang kusta yang sembuh, hanya satu yang kembali memuliakan Allah. Dan yang satu ini bukanlah kelompok Yahudi, melainkan orang asing atau kafir. Bukan karena Tuhan merengek-rengek meminta ungkapan terimakasih dari orang yang mengalami kebaikan-Nya sehingga kita fokus pada keteladanan orang kafir itu. Ini bukan sekadar terimakasih kepada Tuhan lewat kata-kata atau ritual lainnya. Lebih dari itu, Yesus bertanya: “Dimanakah yang sembilan orang tadi?” Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?” Kata-kata Yesus ini menggelikan. Amat menggelikan! Bisa jadi memang orang asing lebih memuliakan Allah. Bisa jadi orang kafir lebih memuliakan Allah. Itu ditunjukkan oleh orang asing tadi yang kembali memuliakan Allah. Sementara orang yang akrab dengan tata aturan peribadatan dan yang memegang identitas agamanya erat-erat entah memuliakan siapa. Dalam kehidupan bersama itu lebih jelas, siapa yang memuliakan Allah dan siapa yang memuliakan diri atau kelompoknya. Mungkin Pandemi Covid-19 bisa menjawabnya. Marilah kita berdoa: “Tuhan, kami ingin memuliakan Dikau dengan membangun kehidupan bersama kami yang lebih baik lagi”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply