Renungan

Arwah Orang Beriman

 229 total views,  2 views today

Senin,  02 Nop 2020 : Pengenangan Arwah Semua orang Beriman, 2 Mak 12:43-46, 1Kor 15:12-34, Yoh 6:37-40
Kematian menakutkan dan banyak orang tidak siap menyambutnya. Ada banyak kisah yang beredar di tengah-tengah kita sebagai bukti bahwa ada banyak orang yang tidak siap untuk meninggal. Padahal, kematian itu adalah kepastian. Semua orang akan meninggal pada suatu saat. Namun, karena begitu menyeramkan, menakutkan dan menyedihkan gambaran tentang kematian membuat banyak orang yang masih hidup, merasa mati sebelum meninggal. Di sini mati bukan dalam arti biologis, melainkan dalam arti rohani. Tandanya ialah tidak berdaya dan tidak mampu menerima kenyataan hidup yang misteri ini. Sikap itu pula yang menumbuhkan budaya kematian, yakni budaya menindas dan mematikan sesama karena tidak mampu melihat misteri kehidupan pada sesama.
Pengenangan arwah semua orang beriman hari ini yang sudah lama menjadi tradisi Gereja kita setiap tanggal 2 Nopember setiap tahun, menjadi cara umat beriman memaknai kehidupan dan kematian. Sebagaimana kehidupan bermakna bagi umat beriman, kematian juga bermakna. Dasarnya adalah sikap percaya orang beriman pada Sabda Tuhan: “Supaya semua yang telah diberikan Bapa kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.” Kata-kata Yesus ini menjadi dasar keyakinan kita bahwa setiap orang berharga di hadapan Tuhan. Baik waktu hidup maupun waktu mati, Tuhan tidak pernah melepaskan kita dari pelukan cinta-Nya. Keyakinan ini menjadi dasar optimisme kita menjalani hidup ini. Maka, sambil mendoakan semua keluarga kita dan siapa saja yang telah meninggal, kita memaknai hidup kita yang berharga ini. Hanya dengan memaknai hidup inilah kita mampu memaknai kematian. Maka, kita yang masih berjiarah di dunia ini mendoakan keluarga kita dan siapa saja yang telah meninggal karena mereka yang telah meninggal tidak mampu lagi mendoakan dirinya. Semoga mereka mengalami buah kebangkitan Kristus dan itulah pulalah yang kita harapkan untuk kita alami kelak. Karena iman, kita yang masih hidup di dunia tetap bersatu erat dengan mereka yang telah meninggal. Dengan kematian, hidup tidak dibinasakan, tetapi hanyalah diubah dari kefanaan kepada keabadiaan. Semoga hidup kita menjadi hidup-hidup karena kebahagiaan kita adalah beriman pada kebangkitan Kristus. Marilah kita berdoa: “Tuhan, terimalah arwah semua orang beriman dan hidupkanlah kami selalu agar kami hidup-hidup untuk membangun kehidupan yang bermakna”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply