Renungan

Tanda Kehadiran Yesus

 141 total views,  2 views today

Senin, 12 Okt 2020 : Gal 4:22-24.26-27.31-5:1, Luk 11:29-32
Selain menafsir kata-kata, manusia juga mampu menafsir tanda. Kemampuan ini adalah ukuran kecerdasan manusia. Tentu, bukan asal menafsir. Tafsiran benar kalau sesuai dengan kenyataan. Misalnya, terhadap mendung orang menafsirkan bahwa akan datang hujan. Karena itu, disediakanlah payung. Tafsirannya benar kalau memang datang hujan. Begitulah juga terhadap banyak tanda lain, manusia mampu menafsirkan aneka tanda itu. Tujuannya bukan untuk keasyikan menafsir, melainkan untuk membangun sikap yang kontak dengan kenyataan sehingga terbangunlah keharmonisan dan terhindarkan konflik.
Dalam Injil hari ini Yesus mengecam orang banyak karena mereka tidak mampu menangkap kehadiran Yesus sebagai arah hidup. Mereka meminta tanda kepada Yesus. Padahal, lebih dari sekadar tanda, Yesus adalah Allah yang hadir di tengah-tengah manusia. Orang banyak merasa belum cukup kehadiran Yesus untuk meneguhkan dan membuat mereka percaya. Masalahnya ada pada mereka, yakni mereka tidak terbuka dan tidak mau dibarui. Begitulah juga kita sering melewatkan hal-hal yang luar biasa indah, bermakna dan berarti dalam hidup ini karena kita juga kurang terbuka. Ketertutupan hati tidak akan pernah membangun pola hidup yang benar. Dalam aneka pengalaman hidup kita, Tuhan berbicara, hadir untuk menuntun kita. Namun, ada-ada saja yang membuat kita tidak mampu mengenali kehadiran Tuhan dalam perjalanan hidup kita. Akhirnya, kita sering memaksakan apa yang kita ketahui dan kita kehendaki, bukan lagi apa yang dikehendaki oleh Allah. Marilah kita berdoa: “Tuhan, buatlah kami selalu terbuka pada kehadiran-Mu yang berbicara dalam segala pengalaman hidup kami”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply