Renungan

Pembaruan Diri

 70 total views,  2 views today

Kamis, 15 Okt 2020 : Peringatan St. Teresia Avila, Ef 1:1-10, Luk 11:47-54
Sesuatu yang berdaya tidak harus kelihatan. Justru yang tidak kelihatan sering lebih kuat dan lebih berdaya.  Dahsyat!  Itu bukan mau mengatakan bahwa manusia lebih suka ditarik dan digerakkan oleh bayangan-bayangan atau cerita-cerita kosong yang tak bermakna. Namun, lihatlah orang-orang karismatis, mereka intim dengan yang tak kelihatan dan efeknya membawa pembaruan kepada dirinya dan dunia sekitar. Hal-hal yang kelihatan/material tidak pernah mengganggu konsentrasinya untuk menjawab kebutuhan dirinya dan kebutuhan dunia sekitarnya. Betapa celakanya memang kalau kita hanya memegang dan melekat pada apa yang kelihatan saja.
Injil hari ini melanjutkan perikop yang kemarin. Dikisahkan tentang teguran Yesus. Teguran yang sangat keras: “Celakalah!” Teguran ini disampaikan oleh Yesus agar orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tidak puas dengan apa yang kelihatan saja, tetapi Yesus mengajak mereka untuk mengadakan pembaruan. Pembaruan itulah yang diwujudkan oleh Santa Teresia dari Avila. Caranya ialah dengan tutup mulut agar hati dan budi terbuka. Pembaruan dengan tutup mulut itu bagaimana ya?  Hahaha. Padahal, kita sudah terbiasa melihat pembaruan yang diusung dengan sejuta kata dan sejuta komentar. Motif pembaruan yang ditawarkan oleh Yesus dan diikuti oleh Santa Teresia Avila adalah keinginan untuk sevisi dan sejalan dengan Yesus. Roh-Nya terbuka kepada siapa saja yang mau membarui diri dan membarui dunia sekitarnya dengan berjuang mengarahkan hati dan budi pada-Nya. Tanpa itu, kita akan menyimpan yang tidak kita sukai karena kita dikendalikan oleh apa atau siapa yang kelihatan saja. Pada akhirnya, itu akan menjadi lawan kita. Padahal, hidup bukan untuk mencari lawan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, ajari kami membuat pembaruan”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply