Renungan

Pelaksana Sabda

 234 total views,  2 views today

Sabtu, 10 Okt 2020 : Gal 3:22-29, Luk 11:27-28
Mengapresiasi atau memuji seseorang, entah kepribadiannya atau kinerjanya merupakan sikap terpuji. Memang pujian bukan tujuan. Tetapi, pujian adalah karunia bagi orang yang mampu mengungkapkannya serta kepada orang yang mampu menerimanya. Muatannya adalah ketulusan. Tanpa itu, pujian hanya akan semu, nikmatnya sebentar dan sakitnya akan lama. Selekas nggak nikmat, penyesalanlah yang datang. Benarlah memang penyesalan selalu datang kemudian. Ha ha ha. Nggak mungkin pula penyesalan di awal kan?  Apa pula hubungannya dengan Injil hari ini. Marilah kita dalami.
Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa Yesus sedang berbicara kepada orang banyak. Sang Guru dari Nazareth selalu dikerumuni orang saat Ia mengajar.  Pengajaran-Nya diminati banyak orang karena perkataan-Nya mencerahkan, terhindar dari berita hoaks, bermutu alias bukan murahan, tidak memecah-belah pendengar-Nya,  tetapi mempersatukan. Nah, salah seorang wanita dari antara orang banyak itu berkata kepada Yesus: “Berbahagialah ibu yang telah mengandung dan menyusui Engkau!” Yesus tidak langsung terlena dengan pujian itu bukan karena Yesus melupakan ibu yang mengandung dan menyusui-Nya melainkan menghantar orang untuk sampai pada pemahaman bahwa kehadiran Yesus bukan terutama mengejar nama harum, prestasi atau kehormatan keluarga, suku, atau marga nenek moyangnya. Karena itu, Yesus berkata: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Sabda Allah dan memeliharanya.” Maria bukan lagi sekadar ibu biologis Yesus tetapi lebih dari itu, Maria adalah saksi Sabda yang menjadi Daging serentak pula Maria menjadi pelaksana Sabda. Siapa pun yang meneladani cara hidup beriman Maria akan mengalami kebahagiaan dan layak menerima pujian. Marilah kita berdoa: “Tuhan, ajar kami selalu untuk menjadi pelaksana Sabda seperti Bunda Maria”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply