Renungan

Misi Yesus

 284 total views,  3 views today

Kamis, 29 Okt 2020 : Ef 6:10-20, Luk 13:31-35
Seseorang yang berusaha melakukan misi tertentu,  pasti siap menerima dan menanggung risiko yang timbul. Kalau tidak, orang seperti itu akan kalah sebelum berlaga. Pahitnya lagi, predikat pengecut akan disandangnya sebagai gelar seumur hidup. Karena itu, hanya orang yang sadar (tahu dan mau) misi dan perutusannya yang boleh dimintai pertanggungjawaban. Sikap demikian kita temukan dalam pribadi-pribadi orang yang getol untuk membangun keadaban publik di negeri kita ini. Sikap demikian kita temukan pula dalam diri seorang ibu yang siap menahan pahit getirnya perasaan demi merangkul dan mempersatukan keluarganya. Sikap demikian kita temukan juga dalam diri seorang bapak yang bersikap kesatria memperjuangakn bahtera keluarganya.
Dalam Injil hari ini dikisahkan ketegasan Yesus dalam menghadapi ancaman terhadap misi-Nya. Orang-orang Farisi berjumpa dengan Yesus dan meminta Yesus untuk meninggalkan Yerusalem. Orang-orang Farisi berkata: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Terhadap orang-orang Farisi itu,  Yesus semakin tegas menyatakan sikap-Nya. Bahkan, Yesus menegaskan kesempurnaan tugas-Nya, yakni derita dan kematian demi keselamatan manusia. Itu dilakukan Yesus untuk mengumpulkan umat manusia, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayap. Yesus memang ditolak. Tetapi, penolakan dari pihak manusia tidak membuat-Nya surut untuk mewujudkan misi-Nya. Yesus mengajak umat beriman untuk senantiasa berefleksi. Untuk merangkul dan mempersatukan banyak orang demi membangun keadaban publik membutuhkan sikap yang tegas dan gigih. Orang seperti itu sering ditolak. Memperjuangkan misi seperti itu ibarat pertempuran yang harus dimenangkan oleh umat beriman. Di keluarga, masyarakat dan bangsa kita, pejuang seperti itu sangat perlu. Karena, godaan dan ancaman bagi umat beriman tidak tanggung-tanggung. Entah dengan cara halus atau cara keras, setiap saat ada godaan bagi umat beriman untuk membelokkan misinya. Yesus siap menghadapi kenyataan hidup-Nya karena misi-Nya bukan kesenangan pribadi, melainkan untuk merangkul semua manusia dan mempersatukannya dalam damai. Itulah juga perutusan kita.  Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami tidak berhenti mengikuti Engkau dan mengupayakan hidup bersama yang lebih baik”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply