Renungan

Kesederhanaan

 306 total views,  2 views today

Selasa, 27 Okt 2020 : Ef 5:21-33, Luk 13:18-21
Ada kebanggaan tersendiri kalau perkumpulan atau sebuah organisasi memiliki banyak anggota. Dengan banyak anggota maka akan banyak keunikan, kekhasan, potensi dan hal positif lainnya yang menjadi kekayaan dan kekuatan organisasi atau perkumpulan tersebut. Tetapi kekuatan itu tidak akan pernah menampilkan wujudnya kalau organisasi atau perkumpulan tidak menjadi persekutuan para anggotanya. Orang Kristen menggunakan kata “persekutuan” untuk menekankan keterhubungan dan kedekatan satu sama lain, saling mempengaruhi, saling memperkaya, saling mengembangkan. Maka, Organisasi adalah wadah beberapa/banyak  orang yang mau belajar dan berproses untuk bersekutu. Rakitannya tidak pernah instan, karena bila demikian akan mudah rapuh dan goyah bahkan hancur. Rakitannya harus melalui proses yang lama dan sangat panjang.
Dalam injil hari ini dikisahkan tentang perumpamaan yang dipakai Yesus untuk menggambarkan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah yang dimaksud Yesus bukan kerajaan yang abstrak, dalam bayangan atau khyalan, melainkan Kerajaan yang hendak didirikan di sini dan kini. Kerajaan yang dimaksud Yesus adalah Kerajaan yang harus diupayakan dan diwujudkan oleh para pengikut-Nya di dunia nyata ini. Syaratnya, orang beriman harus menjadi ragi dan benih. Menjadi ragi dan benih adalah panggilan orang beriman sebagai ajakan untuk setia pada hal-hal yang sederhana. Kesederhanaan orang beriman terletak pada kemampuannya membarui diri dan dunia yang dimulai dari hal-hal yang sangat kecil dan sederhana. Bahkan, hal yang sangat sederhana itu sering tidak kelihatan. Memang, segala upaya yang dilakukan oleh umat beriman untuk membangun Kerajaan Allah tidak harus kelihatan. Biarlah dunia tidak selalu melihat apa yang kita upayakan, tetapi memiliki pengaruh bagi diri kita dan sekitar dalam upaya pembangunan Kerajaan Allah. Proses terjadinya pertumbuhan untuk membangun Kerajaan Allah tidak selalu bisa dilihat manusia. Seperti ragi dan benih yang kecil namun mengalami proses pertumbuhan untuk menuju tahap kuat dan berdaya serta berpengaruh luas, orang beriman diajak oleh Yesus agar setia berproses untuk menjadi kuat dan berpengaruh. Ketekunan dan kesetiaan dalam hal-hal sederhana inilah yang menjadi proses membangun rakitan persekutuan yang kuat. Kekuatan orang beriman terletak pada kesederhanaannya. Kebersamaan tanpa kesederhanaan akan melahirkan kesombongan. Di dalam diri orang yang sederhana ada kepasrahan yang kuat pada Tuhan yang membuat kita mampu untuk berproses. Tanpa keyakinan itu, pertumbuhan kita akan menuju kekerdilan. Marilah kita berdoa: “Tuhan, semoga kami mengalami pertumbuhan dalam Dikau”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply