Renungan

Bagian Terbaik

 121 total views,  2 views today

Selasa, 06 Okt 2020 : Gal 1:13-24, Luk 10:38-24

Memilih salah satu pilihan di antara beberapa atau banyak pilihan adalah kemampuan khas manusia. Bagi manusia, keharusan memilih bukanlah keterpaksaan yang menjadi beban dan melahirkan keterbatasan fisik maupun psikis. Justru orang yang tidak mampu memilih akan terjebak dalam ruang sempit, menyesakkan. Perhatikan saja ketika seseorang pergi ke pusat perbelanjaan dan sangat sulit untuk memilih dan menentukan barang yang akan dibeli. Atau, coba ingat pengalaman saat sulit memilih salah satu tawaran di antara banyak tawaran atau undangan apa pun. Barang-barang itu semua baik. Tawaran itu semua baik. Tetapi, di antara banyak pilihan dan tawaran itu ada yang terbaik untuk dipilih. Tentu, banyak faktor yang mempengaruhi sikap untuk mampu menentukan pilihan. Karena itu, kemampuan memilih yang ada pada diri manusia adalah rahmat sekaligus panggilan sebagai manusia yang dicipta oleh Allah.

Dalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, padahal hanya satu saja yang perlu. Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” Yesus mengatakan hal itu untuk menjawab Marta yang menggerutu karena sikap Maria yang duduk dekat kaki Tuhan. Saat itu, Tuhan sedang bertamu di rumah Maria dan Marta. Sebenarnya, Yesus tidak menyepelekan pelayanan Marta. Namun, kita pun sering sekali seperti Marta menggerutu dan tidak murni lagi melayani karena pandangan dan pendengaran kita terhadap suara-suara dari sekitar. Akibatnya, konsistensi dan orientasi kita untuk melayani menjadi goyah. Ada-ada saja yang berkata: “Saya sudah rajin tapi koq malah dia yang terkenal. Koq saya nggak dipuji, koq malah dia yang sejahtera, beruntung dan sebagainya.” Ada aneka banyak kerisauan yang timbul di hati kita dan membuat kita tidak mampu lagu konsisten pada pilihan hidup kita. Tanpa kita sadari, kita pun terjebak pada kurungan yang menyesakkan. Entah memilih duduk atau berdiri, entah berdoa atau melayani, kita hendak mengalami persekutuan dengan Allah. Persekutuan seperti itu melahirkan kebahagiaan yang bukan murahan. Tak ada orang di dunia ini mampu memberikan kebahagiaan seperti itu. Namun, betapa sering kita dibelokkan dari tujuan seperti itu karena suara-suara sekotar, apalagi sering kita haus akan harga diri yang semu. Marilah kita berdoa: “Tuhan, ajari kami senantiasa untuk mencari dan memilih yang Engkau kehendaki.”
(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply