Renungan

Totalitas Hidup

 150 total views,  3 views today

Rabu, 30 September 2020 : Peringatan Wajib Santo Hieronimus, Ayb 9:1-12. 14-16, Luk 9:57-62
Orang yang berorientasi pada sasaran yang pasti akan memiliki sikap yang tangguh untuk mencapai targetnya. Dengan agak geleng-geleng kepala saya membaca pernyataan itu. Mungkin karena saat sekolah di SD saya lebih sering ngantuk, sehingga analisis saya lebih dangkal dari teman sebangku saya yang lihai mempermainkan kata hingga menemukan inti dan makna terdalam dari sebuat pernyataan. Namun, yang boleh kutangkap dari pernyataan itu adalah, setiap orang yang terarah pada tujuan yang pasti, mendapatkan energi untuk berjuang mencapai tujuan itu. Kalau tujuan tidak pasti, perjalanan pun akan lunglai. Bisa tersesat dan pilihan pun salah. Entah pilihan hidup jangka panjang atau pilihan hidup jangka pendek.
Dalam Injil hari ini Yesus menegaskan ajaran-Nya kepada setiap orang yang mau mengikuti-Nya. Dikisahkan dalam Injil bahwa ada dua orang yang berjumpa dengan Yesus. Kepada orang yang pertama, Yesus berkata: “Serigala mempunyai liang, dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Itu dikatakan Yesus setelah orang itu datang mau ngikut Yesus. Tegas dan jelas, Yesus hendak menyadarkan orang itu agar tidak tergoda untuk mengikuti Yesus sebagai tempat pelarian atau tempat persembunyian. Kepada orang yang kedua,  Yesus berkata: “Biarlah orang mati mengubur orang mati; tetapi engkau, pergilah, dan wartakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Itu dikatakan Yesus setelah orang itu minta ijin mau menguburkan bapanya. Menguburkan di sini jangan kita mengerti sempit sekadar menggali tanah untuk menjadikan tempat jenazah dimakamkan. Lebih dari itu, makna mengubur di sini adalah bentuk kedekatan. Pernyataan Yesus kepada orang yang pertama dan kepada orang yang kedua adalah penegasan Yesus mengenai totalitas hidup untuk berorientasi pada sasaran yang pasti. Saya yakin bahwa Yesus tidak mengajarkan para pengikutnya untuk menjadi gelandangan karena tidak punya rumah dan menimbulkan skandal dalam hidup berkeluarga. Bukan sasaran yang kabur. Rusuh, ribut dan ribet sering terjadi karena sasaran kabur dan orientasi nggak jelas pula. Kekaburan orientasi disebabkan oleh kemelekatan pada kepentingan diri dan kepentingan kelompok. Orang demikian pasti sulit memiliki komitmen. Komitmen untuk mengikuti Yesus timbul di hati orang yang memiliki keyakinan bahwa mengikuti Yesus adalah cara untuk menyasar kepastian. Sasaran itu bernilai mahal karena harus mengorbankan kepentingan diri dan hal-hal yang menghambat diri untuk sampai pada kepastian itu. Marilah kita berdoa: “Tuhan, terangi hati dan budi kami agar kami tidak tergoda untuk mengikuti ketidakpastian” – (Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply