Renungan

Salib Suci

 260 total views,  2 views today

Senin, 14 September 2020 : PESTA SALIB SUCI, Bil 21:4-9, Flp 2:6-11, Yoh 3:13-17

Orang Kristen sudah biasa membicarakan salib, menatap salib dan ada ritus mencium salib. Salib juga sudah sering menjadi aksesoris (?) pada mobil dan juga pada aneka fasilitas lainnya. Saya buat pertanyaan dalam kolom itu sebagai bagian permenungan dan pertanyaan. Pertanyaan saya itu berlaku sepanjang segala masa. Apakah tepat sikap yang menempatkan salib sebagai assesoris atau hiasan? Tak jarang juga salib dibuat sebagai benda magis alias jimat. Pemahaman seperti itulah yang membuat umat manusia di jagat raya ini sering gontok-gontokan. Ada yang sangat anti melihat salib dan ada yang sangat mudah terpancing dan tersulut emosi karena salib diinjak-injak, dilecehkan dan dibakar oleh oknum tertentu. Bagi orang Kristen, salib menjadi berarti karena Kristus merelakan Tubuh-Nya dipaku di salib itu sebagai bukti totalitas cinta yang melampaui pemikiran manusia. Karena itulah, salib orang Kristen tidak pernah kosong melompong dari Tubuh Kristus yang terpaku di sana. Tanpa ada Tubuh Tuhan di salib itu, kita tidak tahu apa makna salib dan itu salib siapa. Jangan-jangan itu salib penjahat yang ikut dihukum dengan cara penyaliban. Bagi umat beriman Kristiani, menyalibkan tubuh berarti mencintai sampai menderita dan terluka.

Menurut penanggalan liturgi Gereja kita, hari ini kita merayakan salib suci. Perayaan ini mengajak kita agar selalu merenungkan Cinta Yesus yang begitu besar bagi kita. Dengan menatap Tubuh Tuhan terpaku di salib, kita belajar dan mendapat kekuatan untuk menerima kenyataan derita dalam hidup kita. Sebagaimana Kristus menyatukan diri dengan Salib, kita juga diajak untuk rela memberikan tubuh kita pada salib kita sehari-hari. Perlu kita sadari pula bahwa tidak semua penderitaan kita boleh disebut salib. Salib bagi umat beriman lahir karena upaya dan perjuangan yang menuntut kesetiaan dan kebijaksanaan untuk membangun kemuliaan Allah. Sikap demikian melawan kepongahan diri, penonjolan diri dan kesombongan terhadap jalan-jalan yang ditawarkan oleh Allah. Penderitaan yang lahir untuk mewujudkan kehendak Allah berbeda dengan penderitaan yang timbul karena kepongahan manusia, kesombongan, sikap keras kepala dan ugal-ugalan di jalan raya. Hanya orang yang rela menyerahkan tubuhnya untuk bersatu dengan salibnya mampu mengalami peninggian sebagaimana dituliskan dalam Injil hari ini. Karena kerelaan Yesus menyerahkan Tubuh-Nya pada salib, Ia ditinggikan oleh Bapa. Itu pulalah yang membuat kita tidak takut menerima salib. Di sana ada harapan bahwa kehidupan lebih membahagiakan kalau kita mau menyerahkan tubuh untuk bersatu dengan derita dan memaknai penderitaan. Sementara itu, orang yang doyan membiarkan salib tanpa tubuh dan tidak rela menyerahkan tubuhnya pada salibnya, akan sering menyalibkan orang lain dalam aneka rupa kekerasan dan kekacauan dunia. Marilah kita berdoa: “Tuhan, kami melihat Engkau tergantung di salib, maka kuatkanlah kami agar rela memberikan tubuh kami pada salib kami sehari-hari”

(Pastor Walden Sitanggang OFMCap)

Leave a Reply