ArtikelNewsRenungan

Peringatan Wajib Santo Gregorius

 304 total views,  2 views today

Kamis, 03 September 2020
Peringatan Wajib Santo Gregorius
1Kor 3:18-23
Luk 5:1-11

__________________________________________

Bersiap yang Terburuk, Berharap Terbaik. Kalimat itu saya ambil dari judul utama KOMPAS kemarin. Membaca kalimat tersebut muncul aneka rasa dan pertanyaan. Sudah enam bulan negara kita bersama dengan dunia berjuang menghadapi covid-19. Seluruh sektor kehidupan mengalami tantangan yang hebat. Baik bersama maupun pribadi, kita menghadapi persoalan yang pelik. Pasrah dan menyerah pada situasi bukanlah pilihan orang yang masih memiliki harapan. Sebaliknya, beradaptasi dengan situasi baru adalah keharusan bagi setiap orang guna kelangsungan dan kesinambungan kehidupan. Menemukan peluang dalam tantangan bukan hanya kata-kata lagi melainkan motivasi untuk mewujudkan kemampuan manusia sebagai ciptaan berakal budi.

Dalam Injil hari ini dikisahkan kehadiran Yesus mengajar di tepi pantai. Tepi pantai menjadi salah satu medan kerja masyarakat. Keterangan ini membantu kita untuk memahami kehadiran Yesus yang senantiasa mengajari kita bukan hanya di tempat ibadat, melainkan juga di seluruh medan karya kita. Entah di ladang, di kantor, di toko, di pabrik, di perusahaan, di terminal, di pinggir jalan dan dimana pun kita berkarya, Yesus datang mengunjungi kita, menyapa kita, mewartakan Sabda-Nya kepada kita. Tidak mudah memang menemukan Tuhan dan mengalami perjumpaan dengan-Nya pada situasi saat ini. Seperti Petrus dan teman-temannya yang tidak menangkap apa-apa walau sepanjang malam telah bekerja keras, kita juga sering mengalami hal yang sama. Kita sering merasa tidak mendapat apa-apa walau sudah bekerja semaksimal mungkin dan juga rajin berdoa. Pilihan yang tepat bagi kita ialah bukan lari dari kenyataan, melainkan semakin siap menerima kenyataan hidup. Dasarnya adalah Sabda Tuhan: “Bertolaklah ke tempat yang dalam.” Tempat yang dalam adalah situasi yang menuntut perjuangan lebih dari yang biasa. Tempat yang dalam membutuhkan kemampuan beradaptasi terhadap segala tantangan yang ada dalam lingkungan hidup dan dunia kerja kita. Tempat yang dalam adalah situasi dunia yang tidak bisa kita prediksi lagi secara akurat, tidak sama dengan apa yang kita bayangkan dan yang kita pikirkan atau kita dugai. Ke sana kita diutus Tuhan bukan untuk binasa, melainkan agar kita semakin melihat penyelenggaraan-Nya sebagaimana Petrus mendapatkan tangkapan yang banyak di tempat dalam. Harapan itu menjadi kekuatan kita menghadapi situasi saat ini yang boleh juga dikatakan sebagai “tempat dalam”. Banyak hal tidak akan bisa lagi kita prediksi, tetapi itu tidak mematahkan harapan kita bahwa Allah punya cara tersendiri untuk membukakan mata kita untuk melihat karya-Nya yang yang agung. Petrus membuka hati pada perintah Tuhan dan mendapatkan hasil yang banyak. Semoga sikap yang sama terjadi dalam diri kita sehingga di tempat dalam saat ini kita tidak kehilangan, tetapi justru mendapatkan banyak hal yang kita yakini sebagai penyelenggaraan illahi. Marilah kita berdoa: “Tuhan, bukakanlah hati kami untuk melihat karya-Mu yang agung saat ini”.

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply