Renungan

Penabur Benih

 321 total views,  2 views today

Sabtu,  19 Sept 2020 : 1Kor 15:35-37.42-49, Luk 8:4-15

Entah sudah berapa kali saya menulis tentang tanda dan simbol dalam tulisan-tulisan ini tidak kuingat lagi. Pasti lebih dari satu kali. Baik tanda maupun simbol, sama-sama membutuhkan penafsiran. Walaupun pengertian tanda dan simbol memiliki perbedaan yang amat samar dan halus, tetapi keduanya juga memiliki persamaan, sama-sama menyampaikan pesan/makna tertentu. Untuk menangkap pesan/makna itulah perlu kecakapan agar pesan/makna dalam tanda itu tidak kabur, ambigu apalagi palsu. Tanda tangan bukan sekadar bubuhan tinta pada kertas, melainkan kehadiran seseorang yang menyetujui, mengesahkan dan mengiyakan sesuatu. Itulah muatannya. Muatan itu harus dipastikan dengan kecakapan tertentu agar tidak kabur. Bagi orang batak, ulos bukan sekadar kain dengan corak tertentu. Lebih dari sekadar karya seni, ulos memiliki muatan makna simbolik yang sangat luas. Maka, perlu digali makna yang terkandung pada ulos itu agar ulos tidak dipandang sebagai magic atau jimat yang menakutkan. Ketidakmampuan menangkap makna dalam aneka tanda dan simbol bisa disebabkan oleh karena kemalasan berpikir untuk mendalami sesuatu.

Dalam Injil hari ini dibentangkan kepada kita pengajaran Yesus. Perumpaan yang digunakan Yesus adalah seorang penabur yang menaburkan benih. Penabur itu adalah Allah. Benih itu Sabda Tuhan. Benih itu jatuh di beberapa tempat yang berbeda. Setiap kali membaca perikop ini, selalu tertemukan muatan baru yang  disampaikan oleh penginjil. Kali ini saya mau menyoroti asal-muasal benih. Disebutkan dalam Injil bahwa Allah penabur benih itu. Penginjil mau menegaskan bahwa sejak awal mula, Allah membagikan kebaikan-kebaikan-Nya kepada manusia agar manusia mampu berjumpa dengan sumber kebaikan, yakni Allah. Maka, ukuran kebaikan bagi umat beriman adalah keterarahan senantiasa pada Allah. Untuk melihat kebaikan-kebaikan seperti itu perlu sikap mendalam, lebih dari sekadar teliti, dibutuhkan sikap yang selalu terbuka dan senantiasa memohonkan Roh Tuhan agar menerangi dan membantu diri memasuki kenyataan hidup yang sebenarnya sehingga tidak tertipu oleh aneka tanda, termasuk tanda tangan atau tanda-tanda lainnya serta berbagai simbol lainnya dalam kehidupan ini. Sikap seperti itu adalah penampakan hati yang subur sebagai tempat Sabda Tuhan ditaburkan Allah dalam diri kita. Buahnya adalah ketekunan untuk mencari dan menemukan kehadiran Tuhan dalam aneka pengalaman hidup. Marilah kita berdoa: “Tuhan, utus selalu Roh-Mu kepada kami agar benih-benih kebaikan-Mu bertumbuh dalam diri kami yang membuat kami sanggup meneliti, mencermati dan akhirnya mengenal Engkau dalam hidup kami”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

Leave a Reply