Renungan

Kompetensi Pewarta

 324 total views,  3 views today

Rabu,  23 Sept 2020 : Peringatan Wajib St. Pio, Ams 30:5-9, Luk 9:1-6

Akhir-akhir ini makin ramai pewartaan di media sosial. Bahkan, lebih dari sekadar pewartaan, muncul juga banyak aneka debat seputar iman. Perhatikanlah misalnya debat para kaum saleh yang mengutak-atik ajaran iman dengan otak yang brilian. Luar biasa! Satu kata pun bisa dipelintir untuk tujuan tertentu, eh maaf bukan sekadar tujuan, tapi juga untuk kebutuhan tertentu. Kebutuhan disubscribe, dilike, dikomen dan entah kebutuhan apa lagi. Kemajuan teknologi ini melahirkan banyak hal positif untuk berbagi banyak hal yang baik. Paus Fransiskus mengajak orang beriman untuk membagikan kegembiraan yang bersumber dari Kristus kepada semua orang. “Janganlah pernah menahan kegembiraan sejati untuk diri sendiri” kata bapa suci. Maka, media sosial juga menjadi media pewartaan kegembiraan yang bersumber dari Kristus.

Dalam Injil hari ini Yesus mengutus para murid-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan banyak orang. Yesus menegaskan kompetensi para murid-Nya dengan berkata: “Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan.” Perintah Yesus ini hendak menyadarkan setiap umat beriman tentang tujuan dan orientasi kita senantiasa berusaha agar semakin banyak orang mengalami Kerajaan Allah. Namun, sering kali justru orang tidak mengalami lagi Kerajaan Allah karena banyak hal timbul yang mencemaskan di era teknologi canggih ini. Entah karena cara atau konten. Pewartaan media digital sering menjadi ajang perebutan dan pencapaian kepuasan  diri. Entah kebutuhan untuk disubscribe, disukai, dikomentari, dan berbagai kebutuhan lainnya. Lihatlah wajah media sosial kita. Padre Pio yang kita peringati hari ini bukanlah figur yang terkenal karena sepak terjangnya ke berbagai negara dan dunia untuk bermisi. Orang kudus ini memancarkan cahaya dari daerah terpencil. Sangat sederhana dan memiliki fisik yang rapuh. Namun begitu banyak orang datang untuk mendengarkan nasehatnya dan mengaku dosa. Pewartaannya adalah pewartaan yang apa adanya, bukan ada apanya. Dia memberikan dirinya seutuhnya total untuk menyelamatkan banyak jiwa. Pewartaannya bukan di jalan-jalan, mall, lapangan terbuka, stadion atau Youtube. Perjumpaan pribadi tidak pernah tergantikan dengan apa pun. Kristus yang menyerahkan diri-Nya seutuhnya mengajari kita untuk mengalami kontak batin agar saling menyembuhkan satu sama lain. Cara itu bisa mengurangi aneka luka wajah media sosial kita. Marilah kita berdoa: “Tuhan, ajar kami untuk dekat selalu dengan Dikau sehingga kami mampu berelasi dengan sesama”

(Pastor Walden Sitanggang, OFMCap)

 

Leave a Reply